<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>weblog nizaar</title>
	<atom:link href="http://nizaar.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://nizaar.wordpress.com</link>
	<description>satu blog dari kami</description>
	<lastBuildDate>Sun, 02 Oct 2011 13:34:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='nizaar.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>weblog nizaar</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://nizaar.wordpress.com/osd.xml" title="weblog nizaar" />
	<atom:link rel='hub' href='http://nizaar.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Delete Akun FB mu secara permanen</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2011/10/02/delete-akun-fb-mu-secara-permanen/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2011/10/02/delete-akun-fb-mu-secara-permanen/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 13:34:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[URL Sumber: http://annisa2me.wordpress.com/2010/06/13/delete-akun-fb-mu-secara-permanen/ Hmm.. Facebook yang biasa disebut FB ini kini mulai ditinggalkan.. karena banyaknya para facebooker yang ngerasa gak aman dengan akunnya.. udah gitu sekarang gencar-gencarnya MFB yang berkemungkinan bersaing dengan FB.. Tapi fasilitas untuk mendelet akun FB ternyata sulit untuk dideteksi oleh para pengguna FB. Mereka hanya bisa menonaktifkan akun mereka. Sulit banget rasanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=168&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>URL Sumber: http://annisa2me.wordpress.com/2010/06/13/delete-akun-fb-mu-secara-permanen/</p>
<p>Hmm..</p>
<p>Facebook yang biasa disebut FB ini kini mulai ditinggalkan..</p>
<p>karena banyaknya para facebooker yang ngerasa gak aman dengan akunnya..</p>
<p>udah gitu sekarang gencar-gencarnya MFB yang berkemungkinan bersaing dengan FB..<span id="more-168"></span></p>
<p>Tapi fasilitas untuk mendelet akun FB ternyata sulit untuk dideteksi oleh para pengguna FB. Mereka hanya bisa menonaktifkan akun mereka. Sulit banget rasanya keluar dari <em>social networking</em> yang satu ini. Masuknya gampang banget, tapi keluarnya.. Masya Alloh jian.. uangeeelll…eee puol..</p>
<p>musti sabarr.. karena membutuhkan waktu berjam-jam..</p>
<p>langkah-langkahnya begini:&gt;&gt;&gt;</p>
<ol>
<li>remove teman-teman anda dari list friends anda.. dengan mengklik tanda “x” lalu “remove friend”.</li>
<li>hapus semua foto dan album anda .</li>
<li>hapus semua komentar yang anda kirim dan anda buat..</li>
<li>hapus semua keanggotaan anda dari group, fan, dsb..</li>
<li>hapus semua info tentang anda</li>
<li>hapus semua tag-tag tentang anda</li>
<li>intinya adalah hapus semua yang berkaitan tentang anda.. sampai akun FB anda benar-benar tidak punya apa-apa.</li>
<li>lalu kirim email ke <a href="http://www.facebook.com/help/contact.php?show_form=delete_account">http://www.facebook.com/help/contact.php?show_form=delete_account</a> dan pilih hapus akun secara permanen. Masukkan password anda lalu masukkan kata sandi yang terlihat.</li>
<li>Setelah terkonfirmasi, facebook akan memberitahukan bahwa jika Anda tidak login selama 14 hari, maka akun anda akan terhapus dan tidak bisa direcovery.<br />
- Setelah itu facebook akan log out otomatis.<br />
- Silahkan perikasa 14 hari kemudian dengan login dengan akun anda. Kalau tidak bisa berarti facebook anda berhasil di delete.</li>
</ol>
<p>Semakin lama anda menjadi anggota FB, semakin lama pula anda keluar dari FB…</p>
<p>Semoga bermanfaat…..</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/168/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/168/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=168&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2011/10/02/delete-akun-fb-mu-secara-permanen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berpuasa 6 (enam) Hari di Bulan Syawwal</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/08/berpuasa-6-enam-hari-di-bulan-syawwal/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/08/berpuasa-6-enam-hari-di-bulan-syawwal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 14:57:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[URL sumber: http://www.sahab.net/home/?p=475 Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan –hafizhahullahu ta’ala- berkata: Rasulullah –shallallaahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Barangsiapa telah berpuasa Ramadhan dan mengikutkannya dengan 6 (enam) hari dari bulan Syawwal maka ia seperti orang yang berpuasa setahun penuh.” HR Muslim Dalam hadits ini terdapat keutamaan berpuasa 6 (enam) hari di bulan. Enam hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=164&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>URL sumber: http://www.sahab.net/home/?p=475</p>
<p>Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al Fauzan –<em>hafizhahullahu ta’ala-</em> berkata:</p>
<p>Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>- bersabda, “Barangsiapa telah berpuasa Ramadhan dan mengikutkannya dengan 6 (enam) hari dari bulan Syawwal maka ia seperti orang yang berpuasa setahun penuh.” HR Muslim<span id="more-164"></span></p>
<p>Dalam hadits ini terdapat keutamaan berpuasa 6 (enam) hari di bulan. Enam hari dari bulan Syawwal ini bagi siapa saja yang telah berpuasa di bulan Ramadhan, sehingga ia mengumpulkan 2 keutamaan sekaligus; puasa Ramadhan dan puasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal.</p>
<p>Dan ia seperti seorang yang berpuasa selama <em>ad-Dahr</em> &#8211; yakni setahun penuh, yang dimaksud <em>ad-Dahr</em> di sini adalah satu tahun- yang demikian ini dikarenakan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang semisalnya. Sehingga bulan Ramadhan dihitung semisal 10 (sepuluh) bulan, dan 6 (enam) hari di bulan Syawwal semisal dengan 2 (dua) bulan. Dengan demikian semua terkumpul menjadi 12 (dua belas) bulan atau 1 (satu) tahun penuh. Maka siapa saja yang berpuasa di bulan Ramadhan dan mengikutkannya dengan 6 (enam) hari di bulan Syawwal ia akan mendapat  pahala seperti orang yang berpuasa selama setahun penuh, ini adalah keutamaan dari Allah –<em>subhaanahu wa ta’aalaa-</em>.</p>
<p>Sabda Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam-</em> yang berbunyi “Enam hari dari bulan Syawwal” menunjukkan bolehnya untuk berpuasa 6 (enam) hari itu dengan cara berurutan ataupun terpisah-pisah selama 1 bulan itu. Dan menunjukkan pula atas bolehnya berpuasa di awal bulan atau di tengahnya atau di akhir bulan, disebabkan sabda beliau –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam</em>- yang bunyinya “Enam hari dari bulan Syawwal.”</p>
<p>Hadits ini juga menunjukkan bahwa barangsiapa yang belum berpuasa Ramadhan maka tidak disyariatkan baginya untuk berpuasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal. Karena Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam-</em> bersabda “Barangsiapa telah berpuasa Ramadhan dan mengikutkannya dengan 6 (enam) hari dari bulan Syawwal.” Dengan ini, orang yang berbuka di bulan Ramadhan karena suatu ‘udzur tertentu maka ia jangan langsung berpuasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal tetapi wajib bersegera untuk menyelesaikan puasa Ramadhan (mengganti). Demikian pula orang yang berbuka beberapa hari dari bulan Ramadhan karena suatu udzur syar’i maka ia jangan langsung berpuasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal sampai ia selesai mengganti (meng-<em>qadha`</em>) puasa Ramadhan yang wajib ia lakukan. Setelah itu, baru ia berpuasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal jika ada hari yang masih tersisa dari bulan Syawwal. Disebabkan Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam-</em> bersabda, “dan mengikutkannya dengan 6 (enam) hari dari bulan Syawwal.”</p>
<p>Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam-</em> mengaitkan puasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal dengan berpuasa Ramadhan di waktu sebelumnya. Sehingga jika ada kewajiban yang harus ia tunaikan dari puasa Ramadhan (seluruhnya atau sebagiannya) maka ia wajib untuk memulai dengan yang wajib, karena amalan yang wajib itu lebih utama daripada amalan yang <em>nafilah </em>(tambahan/ sunnah).</p>
<p>Mayoritas ulama berpendapat disyariatkannya puasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal itu hukumnya sunnah, kecuali al-Imam Malik. Beliau tidak berpendapat disyariatkannya puasa 6 (enam) hari di bulan Syawwal, beliau berkata, “Ditakutkan jika manusia nantinya mengira bahwa itu termasuk bulan Ramadhan.” Beliau (al-Imam Malik) ingin mencegah agar manusia tidak mengira bahwa 6 (enam) hari itu termasuk bulan Ramadhan. Akan tetapi bagaimanapun juga dalil tetap didahulukan daripada sebuah pendapat. Dalilnya adalah sunnah, dan sabda Rasulullah –<em>shallallaahu ‘alaihi wa sallam-</em> didahulukan atas ucapan manusia siapapun juga. Adapun al-Imam Malik – <em>rahimahullaahu-</em> tidak sepakat dengannya, dan al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr – <em>rahimahullaahu-</em> memberikan ‘udzur bahwa hadits ini belum sampai kepada beliau (al-Imam Malik).</p>
<p>Sumber: Syarh Kitabish Shiyam dari Kitab Bulughul Maram milik asy-Syaikh Shalih  al-Fauzan –<em>hafizhahullaahu-.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=164&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/08/berpuasa-6-enam-hari-di-bulan-syawwal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendaftaran Thullab (Santri) Baru Program Takhoshshush Ma&#8217;had As Salafy Jember</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/04/pendaftaran-thullab-santri-baru-program-takhoshshush-mahad-as-salafy-jember/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/04/pendaftaran-thullab-santri-baru-program-takhoshshush-mahad-as-salafy-jember/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Sep 2011 09:33:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=161</guid>
		<description><![CDATA[Ma’had As Salafy Jember Jl. W. Monginsidi V No. 99  Sumbersalak,  Kranjingan,  Sumbersari,  Jember 68123 Membuka Pendaftaran Thullab (Santri) Baru Program Takhoshshush   MASA PENDIDIKAN Pendidikan berlangsung minimal 5 tahun, meliputi 2 jenjang : A.    PROGRAM I’DADY (tahun pertama), merupakan jenjang persiapan untuk bisa masuk ke jenjang takhoshshush, materi yang dipelajari : ø  ‘Ulum Al [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=161&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2 align="center">Ma’had As Salafy Jember</h2>
<div>
<p dir="RTL" align="center"><strong>Jl. W. Monginsidi V No. 99  Sumbersalak,  Kranjingan,  Sumbersari,  Jember 68123</strong><strong></strong></p>
</div>
<h2 align="center">Membuka Pendaftaran Thullab (Santri) Baru</h2>
<h2 align="center">Program Takhoshshush</h2>
<p dir="RTL" align="center"><strong> </strong></p>
<h5>MASA PENDIDIKAN</h5>
<p><strong>Pendidikan berlangsung minimal 5 tahun, meliputi 2 jenjang : </strong></p>
<p><strong>A.    </strong><strong>PROGRAM I’DADY (tahun pertama), merupakan jenjang persiapan untuk bisa masuk ke jenjang takhoshshush, materi yang dipelajari :</strong></p>
<p>ø  <strong>‘Ulum Al Qur’an (Al Qira’ah, At Tajwid, Al Hifzh)</strong></p>
<p>ø  <strong>Dasar-dasar Al ‘Aqidah dan Al Lughah Al &#8216;Arabiyah</strong></p>
<p><span id="more-161"></span></p>
<p><strong>B.    </strong><strong>PROGRAM TAKHOSHSHUSH (tahun berikutnya).</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h5>PERSYARATAN</h5>
<p>ø  <strong>Laki-laki, usia minimal 17 tahun</strong></p>
<p>ø  <strong>Dapat membaca Al Qur’an</strong></p>
<p>ø  <strong>Sanggup mengikuti pendidikan minimal selama 5 (lima) tahun</strong></p>
<p>ø  <strong>Lulus tes tertulis dan wawancara</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h5>BIAYA PENDIDIKAN</h5>
<p>ø  <strong>Pendaftaran                                         :        Rp  25.000,-</strong></p>
<p>ø  <strong>SPP (termasuk makan)/bulan             :        Rp200.000,-</strong></p>
<p>ø  <strong>Perlengkapan, dan perawatan           :        Rp400.000,-</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h5>WAKTU DAN TEMPAT PENDAFTARAN</h5>
<p><strong>A.    </strong><strong>WAKTU PENDAFTARAN :</strong></p>
<p>ø  <strong>Tanggal 25 Dzulqa’dah – </strong><strong>1 Dzulhijjah </strong><strong>1432 H  atau 23 – 28 Oktober 2011 M.</strong><strong></strong></p>
<p><strong>B.   </strong><strong>PENDAFTARAN DAN INFORMASI :  Via telepon atau SMS.</strong></p>
<p>ø  <strong>HP. : </strong><strong> 085643628640, 081913041919.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<h5>LAIN-LAIN</h5>
<p>ø  <strong>Semua calon thullab yang mendaftarkan diri baru diperkenankan hadir di Ma&#8217;had As Salafy Jember pada hari Ahad tanggal 25 Dzulqa’dah 1432 H atau 23 Oktober 2011 M.</strong></p>
<p>ø  <strong>Datang langsung Tes Tertulis dan Wawancara. Pengumuman thullab yang diterima Insya Allah pada tanggal 2 Dzulhijjah 1432 H.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/161/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/161/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=161&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2011/09/04/pendaftaran-thullab-santri-baru-program-takhoshshush-mahad-as-salafy-jember/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Malam-malam Terakhir Ramadhan 1432H</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2011/08/22/malam-malam-terakhir-ramadhan-1432h/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2011/08/22/malam-malam-terakhir-ramadhan-1432h/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 00:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download centre]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[i'tikaf]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[sepuluh hari]]></category>
		<category><![CDATA[terakhir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari terakhir Ramadhan, apa yang kita lakukan?   Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyampaikan kita di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Hari-hari yang memiliki kelebihan dibanding lainnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada 10 terakhir Ramadhan ini meningkat amaliah ibadah beliau yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya. Ummul Mu`minin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=156&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Hari-hari terakhir Ramadhan, apa yang kita lakukan?</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Segala puji hanya bagi Allah, yang telah menyampaikan kita di 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Hari-hari yang memiliki kelebihan dibanding lainnya. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada 10 terakhir Ramadhan ini meningkat amaliah ibadah beliau yang tidak beliau lakukan pada hari-hari lainnya.<span id="more-156"></span></p>
<p><em>Ummul Mu`minin </em>‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em> mengisahkan tentang Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pada 10 terakhir Ramadhan :</p>
<p dir="RTL"><strong>كان رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذا دخل العشر &#8211; أي العشر الأخير من رمضان &#8211; شد مئزره، وأحيا ليله، وأيقظ أهله . متفق عليه</strong><strong></strong></p>
<p><em>“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila memasuki 10 terakhir Ramadhan, beliau mengencangkan tali sarungnya (yakni meningkat amaliah ibadah beliau), menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan istri-istrinya.”</em> <strong>Muttafaqun ‘alaihi</strong></p>
<p><strong>Ramadhan tanpa i’tikaf? Rasanya ada yang kurang&#8230;</strong></p>
<p>Ya, memang kurang&#8230;</p>
<p>Karena Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dahulu senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan ramadhan. Sebagiamana dalam hadits Ibnu Umar <em>–radhiyallahu ‘anhuma-</em> dalam <strong><em>Kitab Shahihain</em></strong>.</p>
<p dir="RTL"><strong>ك</strong><strong>َ</strong><strong>انَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ</strong><strong></strong></p>
<p><strong>“Dahulu Nabi -<em>shallallahu ‘alaihi wa sallam-</em></strong> <strong>senantiasa melaksanakan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”.</strong></p>
<p>Maka dalam rangka menghidupkan sunnah ini –di samping keutamaan-keutamaan lain dari ibadah i’tikaf- diadakanlah i’tikaf selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan di <strong>Ma’had As Salafy, Jember</strong>.</p>
<p>Ramadhan kali ini, peserta i’tikaf mencapai angka kurang lebih seratus orang. <em>Alhamdulillah</em>, hari-hari disibukkan dengan ibadah beserta aneka ragamnya; shalat, dzikir kepada Allah, <em>qira’atul Qur’an</em>, istighfar, <em>qiyamullail, </em>nasihat dan kajian tematik serta berbagai ibadah lainnya.</p>
<p>Terlebih dari itu, agar saudara-saudara kita yang tidak berkesempatan untuk menghadiri majelis ta’lim bisa mendengarkan kajian ini melalui internet.</p>
<p>Berikut ini agenda i’tikaf di <strong>Ma’had As Salafy</strong>, <strong>Jember</strong>;</p>
<ol start="1">
<li><strong>Shalat Tarawih dan <em>Qiyamullail</em></strong></li>
</ol>
<p>Shalat tarawih dimulai jam 01.00 – menjelang sahur.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align:center;" width="35">
<p align="center">No.</p>
</td>
<td width="85">
<p align="center">Malam</p>
</td>
<td width="197">
<p align="center">Surat Yang dibaca</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">1</td>
<td width="85">Ke-21</td>
<td width="197">
<p align="center">Al Qashash – Al Ahzab</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">2</td>
<td width="85">Ke-22</td>
<td width="197">
<p align="center">Saba’ – Ash Shaaffat</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">3</td>
<td width="85">Ke-23</td>
<td width="197">
<p align="center">Shaad – Ghafir</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">4</td>
<td width="85">Ke-24</td>
<td width="197">
<p align="center">Fushshilat – Zukhruf</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">5</td>
<td width="85">Ke-25</td>
<td width="197">
<p style="text-align:center;" align="center">Ad Dukhaan – Qaaf</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">6</td>
<td width="85">Ke-26</td>
<td width="197">
<p align="center">Adz Dzariyat – At Tahrim</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">7</td>
<td width="85">Ke-27</td>
<td width="197">
<p align="center">Al Mulk – An Nas</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="35">8</td>
<td width="85">Ke-28</td>
<td width="197"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">9</td>
<td width="85">Ke-29</td>
<td width="197"></td>
</tr>
<tr>
<td width="35">10</td>
<td width="85">Ke-30</td>
<td width="197"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol start="2">
<li><strong>Kajian Tematik</strong></li>
</ol>
<table width="618" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td valign="top" width="40">
<p align="center">No.</p>
</td>
<td valign="top" width="149">
<p align="center">Waktu</p>
</td>
<td valign="top" width="208">
<p align="center">Pemateri</p>
</td>
<td valign="top" width="221">
<p align="center">Tema dan Materi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="40">1.</td>
<td valign="top" width="149">11.00 – qubail dzuhur</td>
<td valign="top" width="208">
<p align="center">Al Ustadz Arif Madiun</p>
</td>
<td valign="top" width="221">
<p align="center">Hadits Arba’in Nawawi</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="40">2.</td>
<td valign="top" width="149">Ba’da Dzuhur</td>
<td valign="top" width="208">
<p align="center">Al Ustadz Alfiyan</p>
</td>
<td valign="top" width="221">
<p align="center">‘Aqidah Salaf Ashhabil Hadits</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="40">3.</td>
<td valign="top" width="149">Ba’da ‘Ashar</td>
<td valign="top" width="208">
<p align="center">Al Ustadz Hamzah dan Al Ustadz ‘Ali Nurdin</p>
</td>
<td valign="top" width="221">
<p align="center"><em>Sirrul I’tikaf </em>(Rahasia I’tikaf) dan Keutamaan Amalan</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top" width="40">4.</td>
<td valign="top" width="149">Ba’da Isya’</td>
<td valign="top" width="208">
<p align="center">Al Ustadz Luqman Ba’abduh</p>
</td>
<td valign="top" width="221">
<p align="center">Tafsir As-Sa’diy dan Tanya Jawab Interaktif.</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Ikutilah, shalat tarawih maupun kajian tematik secara langsung, <em>Insya Allah</em> melalui siaran <em>streaming on line</em> di www.salafy.or.id dan paltalk di room salafiyyin.</strong></p>
<p>Materi Kajian bisa diambil (download) dari salah satu dari dua link berikut ini:</p>
<p>http://statics.ilmoe.com/kajian/users/salafy.or.id/materi-i_tikaf.pdf</p>
<p>atau</p>
<p>http://www.4shared.com/document/hFD8fBvM/materi_itikaf.html</p>
<p>Semoga Allah <em>ta’ala</em> menerima amalan ibadah kita. <em>Amin ya rabbal ‘alamin.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=156&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2011/08/22/malam-malam-terakhir-ramadhan-1432h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Renungan</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/06/sebuah-renungan/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/06/sebuah-renungan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 07:22:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah Renungan Oleh Al Imam Ibnul Qayyim Disalin dari : ahlussunnah-jakarta.com Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian, tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala atau justru ia tertolak sehingga menjadi orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=148&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1 style="text-align:center;">Sebuah Renungan</h1>
<p><strong>Oleh Al Imam Ibnul Qayyim</strong></p>
<p>Disalin dari : ahlussunnah-jakarta.com<br />
Hari berganti hari, tahun berganti tahun, tiada terasa begitu banyak hal-hal yang telah kita perbuat, sedangkan usia semakin menggiring kepada kematian, tapi tidak seorang pun dari kita yang mengetahui apakah amalannya diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala atau justru ia tertolak sehingga menjadi orang yang merugi.<br />
Pergantian tahun merupakan momen penting bagi kita untuk introspeksi (muhasabah), melihat kembali apa yang telah kita kerjakan pada masa yang lalu untuk berbuat lebih baik di sisa waktu. Semoga tulisan kali ini dapat memberi sedikit pencerahan kepada kita dalam meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, amiin.<br />
<span id="more-148"></span><br />
Muhasabah (menghisab) diri ada dua macam: menghisab sebelum berbuat dan menghisab sesudahnya.<br />
Adapun yang pertama (menghisab sebelum berbuat) adalah berfikir pada awal perencanaan dan kehendaknya dan tidak langsung berbuat sampai jelas baginya mana yang baik, melakukan rencananya atau meninggalkannya.<br />
Al Hasan Al Bashri Rahimahullah berkata, “Allah merahmati seseorang yang berfikir pada awal perencanaannya, apabila (rencananya itu) karena Allah ia lanjutkan, dan apabila karena selainnya ia tinggalkan.”<br />
Sebagian ulama menjabarkan hal ini: apabila jiwa seseorang tergerak mengerjakan sesuatu, hendaknya ia merenung dan mengamati apakah rencananya itu dalam batas kesanggupannya atau tidak? Apabila ia di luar batas kesanggupannya, hendaknya ia berhenti. Sedangkan apabila masih dalam batas kesanggupannya, hendaknya ia merenung dan mengamati kembali, apakah menjalaninya yang lebih baik ataukah meninggalkannya. Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia meninggalkannya dan tidak menjalaninya. Sedangkan apabila jawabannya yang pertama, ia merenung dan mengamati sekali lagi, apakah motivasinya mengharapkan wajah Allah Azza Wa Jalla dan pahala-Nya atau mengharapkan kedudukan, pujian dan harta dari makhluk? Apabila jawabannya yang kedua, hendaknya ia tidak menjalaninya meskipun rencananya membantunya meraih harapan-harapannya, agar jiwanya tidak terbiasa dengan kesyirikan sehingga menjadi ringan baginya berbuat bukan karena Allah, karena semakin ringan bagi seseorang berbuat demikian semakin berat pula baginya berbuat karena Allah Ta’ala, hingga ikhlas menjadi perkara yang terberat bagi dia.<br />
Sedangkan apabila jawabannya adalah yang pertama, ia merenung dan mengamati lagi apakah faktor-faktor yang memudahkan terpenuhi, ia memiliki rekan-rekan yang siap membantu atau membelanya, apabila rencananya tersebut membutuhkan orang-orang yang membantunya? Apabila ia tidak memiliki rekan-rekan yang membantunya, hendaknya ia menahan dirinya sebagaimana Nabi Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam bersabar dari berjihad di Makkah sampai ia memiliki kekuatan dan shahabat-shahabat yang membelanya. Dan apabila ia memiliki rekan-rekan yang menolongnya, silahkan ia lanjutkan karena sesungguhnya ia akan menang.<br />
Keberhasilan tidak akan pergi kecuali dari orang yang menelantarkan salah satu dari perkara-perkara ini, karena kapan perkara-perkara di atas terpenuhi pada seseorang keberhasilan pasti menyertainya.<br />
Ini adalah empat tingkatan, seseorang perlu menghisab dirinya pada tingkatan-tingkatan tersebut sebelum berbuat. Karena tidak semua yang ingin dilakukan seseorang, di dalam batas kesanggupannya. Dan tidak semua yang ia sanggupi, mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya. Dan tidak semua yang mengerjakannya lebih baik dari meninggalkannya, seseorang mengerjakannya karena Allah. Dan tidak semua yang niatnya karena Allah faktor-faktor pendukungnya terpenuhi. Apabila seseorang menghisab dirinya di atas empat tingkatan ini jelaslah baginya mana yang harus ia kerjakan dan mana yang harus ia tinggalkan.<br />
Yang kedua: Menghisab diri sesudah berbuat. Dan hal ini ada tiga macam. Yang pertama, menghisab diri atas suatu ketaatan yang usai ia kerjakan namun ia kurang memenuhi hak Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala padanya, sehingga ia belum menunaikannya dalam bentuk yang seharusnya.<br />
Dan hak Allah di dalam suatu amalan ketaatan ada enam macam: ikhlas dalam berbuat, totalitas dalam beribadah kepada-Nya, mencontoh Rasulullah Shallallahu &#8216;Alaihi Wasallam dalam pelaksanaannya, mengakui segala karunia dan anugrah-Nya dan setelah itu mengakui kurangnya dia dalam memenuhi semua itu.<br />
Maka ia menghisab dirinya apakah ia telah memenuhi hak tingkatan-tingkatan ini? Apakah ia sudah mendatangkan itu semua dalam ketaatan yang telah ia kerjakan ini?<br />
Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yang telah ia kerjakan, namun meninggalkannya lebih baik dari melakukannya.<br />
Ketiga, menghisab dirinya atas perkara mubah atau kebiasaan yang telah ia kerjakan, kenapa ia kerjakan? Apakah ia mengerjakannya karena mengharapkan wajah Allah dan negeri akhirat? Sehingga ia menjadi orang yang beruntung, atau mengharapkan dunia dan kesenangannya yang sesaat, sehingga ia merugi tidak beruntung!</p>
<p>Sumber :<br />
Al Imam Ibnul Qayyim, Mawaridul Aman Al Muntaqa</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=148&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/06/sebuah-renungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku Yang Salafiy</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/05/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku-yang-salafiy/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/05/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku-yang-salafiy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 16:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku Yang Salafiy Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam Sumber: www.darussunnah.or.id Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=144&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Perbaikilah Qalbumu Wahai Saudaraku Yang Salafiy</h2>
<p>Oleh: Syaikh Muhammad Bin Abdullah Al Imam</p>
<p>Sumber: www.darussunnah.or.id</p>
<p>Segala puji bagi Allah dan aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, semoga sholawat dan salam senantiasa Allah curahkan kepadanya, kepada keluarganya dan para sahabatnya.</p>
<p><span id="more-144"></span></p>
<p>Semoga Allah terima kebaikan ayahanda kami Al ‘Allaamah Syaikh Robi’ Al Madkholiy atas nasehat yang telah beliau sampaikan, yang nasehat tersebut menunjukkan semangat besar beliau atas kaum muslimin secara umum dan atas saudara-saudara beliau para ahlus sunnah secara khusus. Dalam nasehat ini, beliau telah mengingatkan kita dengan nasehat ayahanda dan syaikh kita Al ‘Allaamah Al Waadi`iy semoga Allah merahmati beliau. Beliau dahulu seringkali berwasiat dengan keikhlasan untuk Allah. Beliau pernah berkata:</p>
<p>“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri terhadap dakwah ini, daripada (perlakuan buruk) dari orang lain terhadapnya”.</p>
<p>Maka wasiat-wasiat ahlul ilmi dan nasehat-nasehat mereka, haruslah senantiasa dijadikan pelajaran, diterima, dicamkan sungguh-sungguh dan dilaksanakan. Maka perkataan Syaikh kita Al Waadi’iy -semoga Allah merahmati beliau-:</p>
<p>“Sesungguhnya kita lebih mengkhawatirkan (perlakuan buruk) dari diri kita sendiri”</p>
<p>Ini adalah perkara penting. Yaitu agar kita semua tahu bahwa kesalahan-kesalahan kita dan pelanggaran-pelanggaran kita lebih membahayakan dakwah kita daripada apa yang diperbuat oleh para lawan terhadapnya di sekian banyak kesempatan.</p>
<p>Kalau pelanggaran-pelanggaran ini dipertahankan oleh para pelakunya secara bersikukuh, dengan memberikan sanggahan dan melontarkan bantahan.</p>
<p>Maka wahai para ikhwah, aku ajak diriku dan saudara-saudaraku -semoga Allah menjaga mereka- untuk memberi perhatian terhadap perbaikan qalbu-qalbu kita.</p>
<p>Modal kita adalah qalbu-qalbu kita. Kalau baik qalbu-qalbu ini, maka bergembiralah. Dan hendaknya kita meneladani orang-orang yang paling baik dan paling mulia setelah para Nabi dan Rasul, yaitu para Sahabat rodhiyallaahu’anhum. Para Sahabat, qalbu-qalbu mereka dipenuhi kebaikan. Sehingga ketika turun firman Allah:</p>
<p>لله ما في السموات وما الأرض وإن تبدوا ما في أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله</p>
<p>“Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu…” (Q.S.2:284)</p>
<p>Mereka langsung menemui Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam dan berlutut serta berkata: “Wahai Rasulullah, telah Allah turunkan ayat ini kepadamu, maka kami tidak dapat menyanggupinya!”</p>
<p>Padahal dalam ayat itu tidak ada amalan-amalan zohir! Di dalamnya tidak ada kewajiban-kewajiban baru untuk amalan-amalan zohir. Dalam ayat itu hanya diterangkan bahwa Allah akan menghisab para hamba atas apa yang ada dalam qalbu mereka. Allah akan menghisab mereka atas apa yang terdapat dalam qalbu mereka.</p>
<p>Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, kami diperintah untuk berjihad, maka kami berjihad. Kami diperintah untuk bershodaqoh, maka kami bershodaqoh. Kami diperintah untuk berhijrah, maka kami berhijrah. Akan tetapi kami tidak dapat menyanggupi ayat ini.</p>
<p>Ini adalah salah satu tanda kefaqihan mereka, kejujuran mereka dan keikhlasan mereka, yaitu mereka ingin qalbu-qalbu mereka diridhoi oleh Allah.</p>
<p>Maka Rasulullah shollallaahu’alayhiwasallam berkata: “Apakah kalian hendak mengatakan seperti yang dikatakan oleh Orang-orang Yahudi dan Nasrani: (kami mendengar dan kami bangkang). Katakanlah: (kami mendengar dan kami taati)”.</p>
<p>Mereka pun berkata: “Kami dengar dan kami taati”. Maka Allah menurunkan ayat “Rasul telah beriman.. (hingga akhir ayat)” (Q.S.2:285). Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Poinnya adalah bahwa para Sahabat senantiasa khawatir atas kejelekan-kejelekan qalbu, kerusakan-kerusakan qalbu dan penyakit-penyakitnya.</p>
<p>Siapakah orang yang selamat qalbunya?</p>
<p>Ketika turun firman Allah:</p>
<p style="text-align:left;">وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنكُمْ وَاللّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ<br />
“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai . Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (Q.S.3:152)</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata: “Demi Allah, aku tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang menginginkan dunia sampai turunnya ayat ini”. Karena mereka berjihad di jalan Allah. Orang-orang Muhajirin dan Anshor rodhiyallaahu’anhum:</p>
<p>Orang-orang Muhajirin: mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, sahabat, anak-anak, harta benda, dan mereka berhijrah demi Allah dan Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam.</p>
<p>Orang-orang Anshor: mereka telah membela Allah dan membela Rasul-Nya, mereka mengerahkan harta benda mereka, mempersiapkan diri dan bersemangat untuk berjihad, berdakwah, mengajar dan sebagainya. Lalu turun ayat ini:</p>
<p>مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ</p>
<p>“..Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat..” (Q.S.3:152)</p>
<p>Maksudnya adalah bahwa asal kesalahan yang terjadi itu adalah sikap menginginkan dunia. Dan yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” di sini adalah “ghonimah” (harta rampasan perang). Yang dimaksud dengan “menghendaki dunia” bukan menghendaki dunia secara terus menerus seperti yang sedang terjadi saat ini!</p>
<p>Kalau kita periksa qalbu-qalbu kita, apa yang akan kita temukan?!!</p>
<p>Apa yang akan kita temukan di dalamnya?!!</p>
<p>Dari hal-hal yang kalau kita paparkan dalil-dalil tentang hal-hal tersebut, maka kita akan tahu bahwa qalbu-qalbu kita perlu diselamatkan! Perlu diperbaikin! Perlu diperiksa ada apa di dalamnya!</p>
<p>Berkata Al ‘Allaamah Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: Orang yang tersandung di jalan itu tidak lain adalah orang yang belum mengikhlaskan amalnya untuk Allah”.</p>
<p>Engkau lihat salah seorang dari kita, ada yang telah menempuh jarak sedemikian jauh dalam kebaikan, ia selalu bersegera kepada kebaikan, bersemangat di dalamnya dan giat terhadapnya, namun setelah itu engkau melihat kemunduran dan kelalaian padanya yang membuatmu merasa aneh! Padahal kita tahu bahwa setiapkali seseorang berusaha melaksanakan ketaatan, Allah akan mengganjarnya dengan semakin besarnya kecintaannya, pengagungannya dan ketekunannya serta kekonsistenannya atas kebaikan tersebut. Kita baca firman Allah:</p>
<p style="text-align:left;">والذين اهتدوا زادهم هدى<br />
“Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka” (Q.S.47:17)</p>
<p>Maka melaksanakan suatu ibadah dan ketaatan merupakan bagian dari petunjuk yang akan Allah tambahkan petunjuk-Nya kepada orang yang taat. Akan tetapi sebagaimana yang telah kalian dengar, perhatian kita untuk memperbaiki qalbu adalah suatu perkara yang sangat penting.<br />
Jangan kau tanyakan perihal qalbumu kecuali kepada dirimu sendiri.</p>
<p>Lihatlah, di manakah engkau?</p>
<p>Lihatlah, di manakah engkau?</p>
<p>Oleh karena itu, telah datang suatu riwayat di dalam Shahih Bukhori dan Muslim, dari hadis Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah shollallahu’alayhiwasallam bersabda:</p>
<p>“Ada salah seorang nabi yang berperang. Lalu ia berkata kepada kaumnya: “Jangan ikut aku orang yang sudah beristri dan ingin bermalam bersamanya tapi belum bermalam dengannya sampai sekarang, dan orang yang telah membangun rumah namun belum memasang atapnya, dan orang yang telah membeli kambing atau ternak betina yang sedang hamil dan dia sedang menunggu ternaknya itu beranak..” al hadis.</p>
<p>Nabi ini tidak menerima orang yang di hatinya ada keterpautan dengan perkara-perkara dunia karena ditakutkan dengan sebab kesibukannya dan keterpautan hatinya atas perkara-perkara itu, ia menjadi tidak ikhlas kepada Allah dan tidak bersungguh-sungguh serta tidak sabar berjihad di jalan Allah, dan akan selalu menunggu-nunggu kapan ia bisa pulang kembali kepada perkara-perkara duniawinya itu!</p>
<p>Maka salah satu sebab penyakit hati adalah cinta dunia, cinta dunia. Maka wahai saudara-saudaraku, (cinta dunia itu) adalah salah satu malapetaka dan penyakit berbahaya.</p>
<p>Masing-masing kita memiliki naluri, kita telah dijadikan dan diciptakan dalam keadaan cenderung kepada cinta dunia. Dan tidak ada orang yang bisa menghindari ini dan bisa selamat kecuali sebesar usahanya memperbaiki qalbunya dan memerangi nafsunya, dan dengan melihat di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?</p>
<p>Di manakah ia dalam memperbaiki qalbunya?</p>
<p>Kalau qalbu ini tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan takut kepada Allah, dengan ikhlas kepada Allah dan bersungguh-sungguh bersama Allah, ia akan dipenuhi dengan fitnah dan penyakit.</p>
<p>Berkata Ibnul Jawziy -semoga Allah merahmatinya-: “Azh Zhulmu (kezoliman) itu dinamai dengan zhulmun, karena ia dari zhulmatul qolbi (kegelapan qalbu). Karena qalbu yang terang itu tidak akan menerima kegelapan. Dan kalau ia tidak terang, ia menjadi gelap dan darinyalah kezoliman itu datang”.</p>
<p>Maka qalbu itu membutuhkan cahaya, makanan, kesembuhan dan itulah makanannya yang telah Allah pilihkan dan telah Ia turunkan sebagai rahmat dari-Nya kepada kita dan sebagai inayah untuk memberi kita hidayah dan tawfiq.</p>
<p>Cahaya qalbu, makanannya, kesembuhannya dan obatnya terdapat dalam Al Quran Al Karim dan As Sunnah Al Muthohharoh.</p>
<p>Apakah kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu?!! Ilmu syar’iy?!!<br />
Ilmu itu adalah cahaya yang lebih terang dari cahaya matahari dan bulan. Maka janganlah kita menyia-nyiakan diri kita dan hidup tanpa dibarengi dengan belajar, tanpa halqoh ilmu, tanpa berinteraksi dengan Al Quran.<br />
Belajar, mengajar, mengkaji, memberi nasehat kepada orang banyak, berdakwah dan mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Kalau tugas kita tidak sedemikian, dengan sungguh-sungguh, tekad yang kuat, kesabaran dan kerelaan serta kesadaran, maka kita akan hancur dan hancurlah dakwah kita serta hancurlah ukhuwah kita.</p>
<p>Berkata Syaikh kita Al Waadi’iy: “Ahlus Sunnah itu banyak, namun mereka berpencar. Mereka tidak saling mencari dan tidak saling berkenalan!”<br />
Ini adalah salah satu dari sejumlah kesalahan dan kelalaian yang ada pada kita.</p>
<p>Oleh karena itu wahai ikhwah sekalian, pembicaraan ini bisa melebar ke mana-mana. Maka singkatnya: nasehat ayahanda kita Syaikh Robi’ semoga Allah menjaganya: ikhlas kepada Allah. Dan betapa indahnya apa yang beliau katakan itu. Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Dan demikian pulalah hendaknya orang-orang yang tulus itu memberikan nasehatnya.<br />
Berpegang teguh dengan kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya shollallaahu’alayhiwasallam. Ini merupakan -sebagaimana yang kalian ketahui- sebuah prinsip agung yang tidak ada yang dapat melaksanakannya kecuali Ahlus Sunnah.</p>
<p>Adapun selain Ahlus Sunnah, maka mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menghancurkan prinsip ini sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad -semoga Allah merahmatinya-: “Para ahli bid’ah itu berselisihpendapat, menyelisihi Al Quran dan bersepakat untuk menyelisihi Al Quran”.</p>
<p>Berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah itu tidak akan diwujudkan kecuali oleh orang yang meridhoi Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad shollallahu’alayhiwasallam sebagai Rasul dan Nabinya ‘alayhishsholaatuwassallaam. Barangsiapa yang menghendaki Allah dan tidak menginginkan dunia, dan barangsiapa yang mengasihi hamba-hamba Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah semoga Allah merahmatinya: “Ahlus Sunnah itu golongan yang paling memahami kebenaran dan yang paling mengasihi orang banyak”,<br />
Maka rasa kasih itu akan datang ketika kita belajar, berbekal dengan ilmu, dan berupaya memberikan nasehat dan bimbingan kepada orang banyak. Umat ini dan orang banyak sedang membutuhkan nasehat dan pengajaran. Dan sebagaimana yang kalian ketahui, baarokallaahu fiikum, bahwa dakwah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Dakwah Salafiyyah, telah Allah jadikan bermanfaat untuk orang banyak di timur maupun di barat. Dan bahwa ia pada masa sekarang ini, telah tumbuh dari negeri ini (Saudi), dan semoga Allah menjadikan negri ini bermanfaat untuk orang banyak di timur ataupun di barat. Oleh karena itu aku nasehatkan kepada para ulama dan para da’i -walaupun aku sebenarnya adalah orang yang paling membutuhkan nasehat, tapi tidak ada halangan untuk kami ingatkan- maka aku nasehatkan kepada para ulama di negeri ini, aku maksudkan para ulama Ahlus Sunnah, dan kepada para da’i serta para penuntut ilmu untuk terus melanjutkan penyebaran dakwah yang dengannya Allah telah memuliakan kalian, sebagai dakwah yang murni dan bersih. Bukan hizbiyyah, bukan paham ketimuran, bukan paham kebaratan, dan juga bukan bid’ah. Akan tetapi berpegang teguh dengan Al Kitab dan As Sunnah. Dan tanpa mengoyak, tanpa mengganti, tanpa merubah. Akan tetapi dengan ittiba’, berpegang teguh dan meneladani serta berpegang erat dengan minhaj nubuwwah.</p>
<p>Kita mohonkan kepada Allah dengan karunia dan kemurahan-Nya, agar Ia menambahkan hidayah, ketakwaan kepada kita, dan agar Ia memperbaiki qalbu-qalbu kita serta agar Ia senantiasa menjaga ukhuwah kita dalam agama ini. Dan tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Allah Tuhan semesta alam.</p>
<p>Diterjemahkan oleh Abu Abdil Halim Zulkarnain dari tautan: http://www.sh-emam.com/play-441.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/144/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/144/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=144&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/05/perbaikilah-qalbumu-wahai-saudaraku-yang-salafiy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ebook Islami: Mau ke mana Partai Islam? [ sudah tersedia, silakan download ]</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/04/ebook-islami-mau-ke-mana-partai-islam/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/04/ebook-islami-mau-ke-mana-partai-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 16:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Download centre]]></category>
		<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Ebook Islami: Mau ke mana Partai Islam? [ sudah tersedia, silakan download ] Dalam usaha untuk menyebarkan khazanah ilmu Islam, kami berusaha menghadirkan sesuatu yang khusus di weblog kami. Yakni materi ilmiah yang berbentuk buku elektronik (e-book). Alhamdulillah telah selesai proses penyuntingan dan pengumpulannya. E-book ini  merupakan kumpulan dari artikel majalah Asy Syari&#8217;ah yang kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=112&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ebook Islami: Mau ke mana Partai Islam? <span style="color:#0000ff;">[ sudah tersedia, silakan download ]</span></strong></p>
<div id="attachment_113" class="wp-caption alignleft" style="width: 100px"><a href="http://nizaar.files.wordpress.com/2010/01/websampul.gif"><img class="size-full wp-image-113 " title="websampul" src="http://nizaar.files.wordpress.com/2010/01/websampul.gif?w=90&#038;h=128" alt="Sampul e-book &quot;Mau ke mana Partai Islam?&quot;" width="90" height="128" /></a><p class="wp-caption-text">sampul e-book</p></div>
<p>Dalam usaha untuk menyebarkan khazanah ilmu Islam, kami berusaha menghadirkan sesuatu yang khusus di weblog kami. Yakni materi ilmiah yang berbentuk buku elektronik (e-book).</p>
<p>Alhamdulillah telah selesai proses penyuntingan dan pengumpulannya. E-book ini  merupakan kumpulan dari artikel majalah Asy Syari&#8217;ah yang kami ambil dari website resmi majalah Asy Syari&#8217;ah di: www.asysyariah.com.</p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p>E-book berjudul &#8220;Mau ke mana Partai Islam?&#8221; Insya Allah sudah bisa di-<em>download </em>di link ini:</p>
<p><span style="color:#0000ff;">http://nizaar.files.wordpress.com/2010/01/mau-ke-mana-partai-islam.pdf</span></p>
<p>Semoga bermanfaat, silakan tinggalkan komentar sebagai saran bagi kami pada langkah ke depannya.</p>
<p>Baarakallaahu fiikum&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=112&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/04/ebook-islami-mau-ke-mana-partai-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://nizaar.files.wordpress.com/2010/01/websampul.gif" medium="image">
			<media:title type="html">websampul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wahai Ahlus Sunnah, Jagalah Ukhuwwah di Antara Kalian!</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/wahai-ahlus-sunnah-jagalah-ukhuwwah-di-antara-kalian/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/wahai-ahlus-sunnah-jagalah-ukhuwwah-di-antara-kalian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 13:33:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Wahai Ahlus Sunnah, Jagalah Ukhuwwah di Antara Kalian! (Nasehat Al-Ustadz Luqman Ba’abduh yang disampaikan dalam acara LKIBA Ma’had As-Salafy Jember pada hari Ahad tanggal 13 Desember 2009) بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=103&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wahai Ahlus Sunnah, Jagalah Ukhuwwah di Antara Kalian!</strong></p>
<p>(Nasehat Al-Ustadz Luqman Ba’abduh yang disampaikan dalam acara LKIBA Ma’had As-Salafy Jember pada hari Ahad tanggal 13 Desember 2009)</p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p style="text-align:center;"><strong>بسم الله الرحمن الرحيم</strong></p>
<p style="text-align:right;">الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم.</p>
<p>Di antara nikmat Allah <em>subhanahu wata’ala</em> yang besar nilainya namun sering dilupakan oleh hamba-hamba-Nya, -dan kita termasuk di dalamnya, yang lalai dan lupa tentang mahalnya nikmat tersebut- adalah nikmat Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah. Al-Ukhuwwah atau persaudaraan di atas prinsip Islam, di atas prinsip Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Pada majelis ini, saya ingin berbicara dan mengingatkan diri saya sendiri yang pertama dan kemudian semua yang mendengarkan nasehat ini tentang besar dan pentingnya nikmat tersebut. Beberapa hal dan peristiwa yang terjadi pada waktu-waktu terakhir ini mendorong saya untuk berbicara, menyebutkan, dan mengingatkan nikmat yang besar ini.</p>
<p>Di antara peristiwa yang muncul pada hari-hari ini -yang kemudian tadi saya katakan mengingatkan saya pertama kemudian Insya Allah semua yang mendengarkan nasehat ini untuk mengenal lebih jauh dan mengingat lebih banyak nikmat Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah ini- adalah <strong>munculnya berbagai kegiatan, berbagai karya yang ditulis dan disebarkan oleh ahlul bathil dengan beragam bentuknya. Di mana mereka -siang dan malam- secara terus-meners rajin untuk menebarkan kemungkaran dan kebathilan di tengah umat ini. Mereka bersatu-padu, berupaya untuk memadamkan cahaya tauhid, memadamkan cahaya Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></strong>.</p>
<p>Sebenarnya pembahasan ini pernah kita singgung beberapa bulan yang lalu, namun karena memang kita ini mudah lupa, maka harus ada upaya untuk selalu diingatkan. Karena memang di sekitar kita dari berbagai syubuhat dan syahwat cenderung menyeret kita untuk lalai terhadap apa yang telah kita ketahui. Maka kita harus terus gencar untuk mengingatkan dan saling mengingatkan. Tidak cukup waktu untuk menyebutkan satu persatu berbagai kebathilan, kemungkaran, syubuhat yang terus ditebarkan melalui berbagai media yang membuat dada kita ini sesak dan kita merasa tenaga kita terkuras. Atau untuk meringankan beban dan membangkitkan semangat kembali untuk terus istiqamah di atas Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, istiqamah dan sabar dalam membela tauhid dan sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam.</em></p>
<p>Sering kita katakan bahwa duduknya kita di majelis seperti ini bukan karena adanya sebuah kepentingan duniawi atau kepentingan bersama terkait dengan urusan dunia, tidak ada kartu anggota organisasi yang menyatukan kita, tetapi tidak lain <strong>yang menyatukan kita adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yang menyatukan kita adalah kepentingan kita terhadap tauhid dan kepentingan kita untuk tetap beribadah, beramal, dan beraqidah di atas</strong><strong> Sunnah</strong><strong> </strong><strong>Rasul <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></strong><strong>. </strong></p>
<p>Nikmat Al-Ukhuwwah ini Allah sebutkan di dalam ayat-Nya, -di mana pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk terus mengingatnya dan tentu tidak sebatas mengingat dengan disebutkan melalui lisan kita, tetapi mengandung perintah untuk kita pandai-pandai menjaga dan memeliharanya-. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> menyatakan:</p>
<p style="text-align:right;">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.</p>
<p><em>“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah<a href="http://w4hyu02.wordpress.com/2009/12/29/wahai-ahlus-sunnah-jagalah-ukhuwwah-di-antara-kalian/#_ftn1"><strong>[1]</strong></a>, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah tersebut sebagai orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang an-nar, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” </em>(<strong>Ali Imran: 103</strong>)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dengan ayat ini, kita mungkin teringat bahwa dahulu salah seorang di antara kita ada yang beraqidah dengan aqidah tasawwuf atau terikat dengan berbagai bentuk tarekat Shufi, atau ada di antara kita dahulu yang berpemikiran Khawarij, mengkafirkan saudaranya muslim, atau di antara kita dahulu penuh dengan khurafat, menggantungkan jimat-jimat, datang ke dukun-dukun, mungkin di antara kita dahulu ada yang beraqidah dengan aqidah Mu’tazilah, di antara kita ada yang sibuk dengan urusan dunianya sehingga penuh dengan kemaksiatan. Semua itu pada hakekatnya menunjukkan bahwa kita bermusuhan, tidak bermusuhan secara fisik sebagaimana yang terjadi pada kaum Aus dan Khazraj.</p>
<p>Allah menyatukan hati-hati kalian, kemudian dengan nikmat dan karunia dari Allah, kalian menjadi saudara. <strong>Saudara karena sama-sama ingin bertauhid dengan benar, ingin menyelamatkan diri dari kesyirikan, ingin berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah </strong><strong><em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em></strong><strong> dalam seluruh urusan agamanya</strong>. Dahulu kalian sebenarnya sudah berada di tepi jurang neraka, kemudian Allah selamatkan kalian. Inilah yang Allah <em>subhanahu wata’ala</em> ingatkan kepada kita semuanya wahai Ahlussunnah. Perintah Allah kepada kita untuk mengingat nikmat Al-Ukhuwwah ini mengandung perintah untuk kita menjaganya karena mengingat nikmat itu merupakan bagian atau salah satu unsur dari bentuk syukur nikmat, dan menjaga nikmat itu adalah termasuk bentuk syukur.</p>
<p>Kita masih ingat nasehat Al-Imam Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri <em>rahimahullah</em> -salah seorang ulama kibar dari kalangan tabi’in-, beliau mengatakan :</p>
<p style="text-align:right;"><strong> </strong>يَا أَهْلَ السُّنةِ تَرَفَّقُوْا رَحِمَكُمُ الله فَإِنَّكُم أَقَلُّ النَّاسِ.</p>
<p><em>“Wahai sekalian Ahlussunnah, bersikap baik dan lembutlah di antara kalian, mudah-mudahan Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian, karena kalian adalah golongan umat manusia yang paling sedikit.”</em></p>
<p>(Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Lalika`i dalam <strong>Syarhu Ushuli I’tiqadi Ahlis Sunnah</strong>).</p>
<p>Beliau mengucapkan ucapan ini dahulu pada masa tabi’in, -masa yang masih dekat dengan masa kenabian- sudah merasakan adanya <em>Al-Ghurbah</em> (keterasingan) dan sedikitnya Ahlussunnah, padahal dahulu Ahlus Sunnah mengalami puncak kejayaannya, aqidah Ahlussunnah tersebar di tengah umat, tetapi seorang imam yang mulia ini merasakan sesuatu yang tidak kita rasakan pada kondisi kita hidup sekarang ini, padahal kondisi kita hidup sekarang ini jauh lebih terpuruk, kondisi tauhid dan sunnah ini semakin asing di tengah umat. <strong>Ahlussunnah semakin asing dan sedikit dibanding kemungkaran dan kebatilan yang tersebar</strong>. Kira-kira apa yang dirasakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri ketika melihat kondisi umat sekarang?</p>
<p>Al-Imam Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri <em>rahimahullah</em> -seorang imam besar dari kalangan Tabi’ut Tabi’in- mengatakan dalam wasiatnya kepada salah seorang muhaddits yang akan melakukan perjalanan jauh (<em>rihlah</em>) dalam rangka menuntut ilmu dan riwayat-riwayat hadits Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">إذا بلغك عن رجل بالمشرق صاحب سنة وآخر بالمغرب فابعث إليهما بالسلام وادع لهما ما أقل أهل السنة والجماعة.</p>
<p><em>“Jika kamu mendapat berita adanya seorang Ahlus Sunnah yang berada di belahan masyriq (timur) dan adanya seorang Ahlus Sunnah yang berada di maghrib (barat), maka sampaikanlah salam kepadanya dan do’akanlah kebaikan kepadanya karena betap</em><em>a</em><em> sedikitnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.” </em></p>
<p>Perkataan ini diucapkan oleh seorang Ahlul Hadits yang pada masa itu tersebar Sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam, </em>masih banyak pada waktu itu ulama dan Ahlul Hadits, namun beliau masih saja mengatakan betapa sedikitnya Ahlus Sunnah.</p>
<p>Maka, ikhwani fiddin <em>rahimani wa rahimakumullah</em>, kita hidup di mana Ahlul Bathil di masa sekarang ini semakin banyak. Berbagai media mereka kuasai, mereka sudah memiliki berbagai perangkat dan sarana yang tidak bisa dimiliki oleh Ahlus Sunnah. Maka dari itu, <strong>nilai seorang saja dari saudara-saudara kita yang beraqidah di atas aqidah sunnah Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dan berada di atas taufiq-Nya adalah begitu mahalnya</strong>. Maka dari itu, jagalah baik-baik nikmat yang besar ini.</p>
<p>Tentunya dalam menjaga nikmat yang besar ini, kita mesti mengetahui berbagai sikap dan tindakan serta amalan yang bisa merusaknya, yang bisa mengganggu, menghilangkan, dan memporak-porandakan nikmat Al-Ukhuwwah ini. Dengan kita mengetahui berbagai tindakan, sikap dan amalan yang bisa merusak Al-Ukhuwwah tersebut, kita bisa menjauhkan diri kita dari ketergelinciran kepada perbuatan yang tercela itu. Terlalu banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentangnya dan tidak cukup waktu untuk kita jelaskan semuanya dalam pertemuan singkat ini.</p>
<p>Di antara yang bisa saya sebutkan dalam kesempatan ini adalah ayat Allah <em>subhanahu wata’ala:</em></p>
<p style="text-align:right;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.</p>
<p><em>“Hai orang-orang yang beriman, </em><em>jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan kebaikan</em><em> </em><em>karena Allah, menjadi </em><em>para saksi yang bersaksi dengan sikap yang adil</em><em>, dan </em><em>janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk bersikap tidak adil</em><em>. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”</em> (<strong>Al-Ma’idah: 8</strong>)</p>
<p>Ayat ini mengandung perintah kepada kita kaum mu’minin agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan zhalim. <strong>Di antara perbuatan kezhaliman tersebut adalah sikap tidak adil ketika kita menyikapi suatu permasalahan atau menyikapi saudara kita</strong>, maka Allah <em>subhanahu wata’ala</em> menyatakan:</p>
<p style="text-align:right;">كُونُوا قَوَّامِينَ</p>
<p><em>“jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan kebaikan”,</em></p>
<p style="text-align:right;">شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ</p>
<p><em>“</em><em>para saksi yang bersaksi dengan sikap yang adil”,</em></p>
<p style="text-align:right;">وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا</p>
<p><em>“janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk bersikap tidak adil”.</em></p>
<p>Sering kita mendapati di antara amalan yang merusak Al-Ukhuwwah adalah sikap tidak adil di dalam menyikapi saudara kita. Sikap tidak adil dalam menyikapi saudara kita ini banyak bentuknya. Di antara yang bisa saya sebutkan adalah antara lain: kalaua kita sedang berkawan, antara teman atau saudara atau istri kita hubungannya baik dan mesra, pada saat hubungan itu masih baik, kepentingan masing-masing masih terpenuhi, maka di saat itu betapa indahnya Al-Ukhuwwah. Masing-masing bisa menjaga saudaranya, menjaga harga diri dan aib saudaranya. Nampak darinya dan tidak keluar dari lisannya tentang saudaranya kecuali yang baik dan gambaran yang indah. Namun ketika sebagian kepentingan duniawinya terhalang, mulai sakit hati atau pernah tersinggung, maka hilang semuanya atau sebagiannya atau sebagian besarnya. Sudah mulai upaya untuk menjatuhkan saudaranya, tetangganya, atau yang lainnya. Itu sudah mulai dilakukan.</p>
<p>Tentu ini merupakan kezhaliman yang dilarang di dalam syari’at Islam. Bersikap adillah ketika berteman, bersikap adillah ketika bertetangga, bersikap adillah ketika bermuamalah, berhubungan dalam bentuk apapun, termasuk dalam hubungan rumah tangga. Karena sikap adil itu -yang dengan izin Allah bisa menjauhkan diri kita dari sikap zhalim- adalah ciri, kriteria dan sifat yang mulia dari seorang mu`min. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam berbagai haditsnya mengingatkan tentang beberapa sikap dan amalan yang dapat merusak Al-Ukhuwwah.</p>
<p>Dalam hadits riwayat Muslim dari shahabat Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا ولاتدابروا ولايبع بعضكم على بيع بعض وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا المسلم أخو المسلم لايظلمه ولايحقره ولايخذله التقوى هاهنا التقوى هاهنا التقوى هاهنا بحسب امرئ من الشر أن يحقرأخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه.</p>
<p><em>“Janganlah kalian saling hasad, saling berbuat najasy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah salah seorang di antara kalian menjual barang yang sudah terjadi transaksi jual beli oleh orang lain, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim itu saudara bagi musliam yang lain, tidak boleh menzhaliminya, merendahkannya, membiarkannya (tidak peduli padanya), taqwa itu tempatnya di hati, taqwa itu tempatnya di hati, taqwa itu tempatnya di hati, cukuplah seseorang itu dikatakan telah berbuat kejelekan manakala telah merendahkan saudaranya sesama muslim, setiap muslim atas muslim yang lain itu haram darahnya, harta, dan kehormatannya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Hadits ini sangat mulia, sangat penting untuk selalu kita mengingatnya, terkhusus di antara sesama Ahlussunnah, karena memang Ukhuwwah <em>Sunniyyah Manhajiyyah</em> yang didirikan di atas aqidah itu mahal sekali. Di tengah-tengah umat berukhuwwah karena kepentingan dunia, kepentingan suku, organisasi, kepentingan madzhab, dan yang lainnya. Maka Ahlussunnah yang sangat sedikit dan <em>Ghuraba’</em> (asing) ini, mendirikan ukhuwwahnya di atas Al-Kitab dan As-Sunnah.</p>
<p>Sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">لَا تَحَاسَدُوا</p>
<p><em>“jangan kalian saling mendengki (hasad).”</em></p>
<p>Hal ini diingatkan karena memang Allah itu lebih mengutamakan sebagian hamba-Nya terhadap hamba-Nya yang lain dalam nikmat dan karunia yang Allah berikan. Allah berikan kepada si fulan dari sisi fisik, kenikmatan dari sisi rezeki dan kelapangan, kelebihan ilmu dan kepandaian, dan berbagai bentuk kelebihan yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Sehingga janganlah terjatuh ke dalam perbuatan hasad.</p>
<p style="text-align:right;">وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ.</p>
<p><em>“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” </em>(<strong>Al Qashahsh: 68</strong>)</p>
<p>Allah <em>subhanahu wata’ala</em> menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih di antara hamba-hamba-Nya siapa yang pantas untuk diberikan keutamaan dan kelebihan. Kehendak Allah <em>subhanahu wata’ala</em> bersifat mutlak dan tidak dibatasi oleh kehendak siapapun. Perkara hasad merupakan perkara yang merusak Al-Ukhuwwah.</p>
<p>Penyakit hasad adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya kemaksiatan pertama yang dilakukan hamba-hamba Allah. Tidaklah Iblis menggoda Adam dan Hawwa kecuali disebabkan oleh hasad dan dengki. Begitu juga kemungkaran dan kebathilan yang ada di muka bumi ini, mayoritasnya disebabkan oleh hasad. Barangsiapa yang Allah berikan padanya nikmat, bersyukurlah kepada-Nya, tidak boleh menganggap remeh dan merendahkan yang lainnya. Begitu pula sebaliknya, barangsiapa yang belum Allah berikan nikmat-nikmat tersebut, maka jangan dengki kepada saudaranya karena hasad dan dengki itu bisa menghilangkan dan merusak nikmat yang Allah berikan kepada kita.</p>
<p>Dan sabda beliau <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>:</p>
<p style="text-align:right;">وَلَا تَنَاجَشُوا</p>
<p><em>“janganlah kalian saling najasy.”</em></p>
<p>Yaitu transaksi yang dikenal di masa kita ini sebagai lelang, dalam bentuk diutusnya beberapa orang (pesuruh) oleh seorang pedagang yang dengan sengaja menawar suatu barang dagangan si pedagang yang menyuruhnya tadi dengan harga yang lebih tinggi padahal dia sendiri tidak ada keinginan untuk membeli barang tersebut. Hal ini dilakukan untuk menipu pembeli yang lain agar menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi.</p>
<p>Dunia itu tidak bernilai, tetapi terkadang bisa merusak dan menghancurkan hal-hal yang menguatkan Al-Ukhuwwah.</p>
<p>Tidak kalah pentingnya juga peringatan kepada para ummahat (ibu-ibu), karena mereka juga tidak kecil peranannya dalam merusak Al-Ukhuwwah. Dan di antara perkara yang bisa merusak Al-Ukhuwwah yang sering terjadi di antara suami dan istri adalah ghibah, definisi ghibah adalah:</p>
<p style="text-align:right;">ذكرك أخاك بما يكره وهو فيه</p>
<p><em>“menyebutkan aib saudaranya yang saudaranya itu benci untuk disebutkan aibnya dalam keadaan aib itu benar ada.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Jika ternyata aib itu tidak ada pada saudaranya, maka disebut buhtan. Seperti ketika seorang suami-istri datang dari ta’lim, setelah pulang dari ta’lim justru mengghibahi saudaranya, ketika pulang dari ta’lim justru menceritakan anak ikhwan lain yang ngompol atau yang lainnya. Tutuplah aib saudaramu sebagaimana dalam hadits:</p>
<p style="text-align:right;">مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا سَتَرَهُ اللَّهُ في الدنيا والآخرة</p>
<p><em>“Barangsiapa yang menutup aib seorang mu’min, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.”</em></p>
<p>Dan yang lainnya dari bentuk amalan yang bisa merusak Al-Ukhuwwah. Sengaja masalah ini disebutkan agar kita tidak tersibukkan dengan perkara intern Ahlus Sunnah seperti ini. Sehingga kita tidak habis waktunya hanya untuk saling membicarakan di antara kta. Tidak terkuras tenaga kita, tenaga kita dibutuhkan untuk membela tauhid dan sunnah Rasulullah, jangan dihabiskan tenaga kita untuk berbicara seperti ini. Ini merupakan perkara yang besar sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;">إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ.</p>
<p><em>“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” </em>(<strong>An-Nur: 15</strong>)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Jangan sampai majelis-majelis kita dipenuhi dengan seperti ini, karena ini dapat merusak Al-Ukhuwwah. Semoga yang sedikit kita dengarkan pada majelis siang hari ini menambah iman kita, dapat melanggengkan nikmat yang mulia yaitu nikmat Al-Ukhuwwah, dan Allah jadikan ilmu yang bermanfaat sekaligus menghapuskan berbagai kesalahan dan dosa-dosa kita. <em>Amin Ya Rabbal ‘Alamin</em>.</p>
<p style="text-align:right;">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين.</p>
<hr size="1" /><a href="http://w4hyu02.wordpress.com/2009/12/29/wahai-ahlus-sunnah-jagalah-ukhuwwah-di-antara-kalian/#_ftnref1">[1]</a> Yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=103&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/wahai-ahlus-sunnah-jagalah-ukhuwwah-di-antara-kalian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nasehat Untuk Remaja Muslim</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/nasehat-untuk-remaja-muslim/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/nasehat-untuk-remaja-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 13:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Nasehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Nasehat Untuk Remaja Muslim Sumber: redaksi assalafy.org Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=101&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Nasehat Untuk Remaja Muslim</strong></p>
<p>Sumber: redaksi assalafy.org<strong><br />
</strong></p>
<p>Kami persembahkan nasehat ini untuk saudara-saudara kami terkhusus para pemuda dan remaja muslim. Mudah-mudahan nasehat ini dapat membuka mata hati mereka sehingga mereka lebih tahu tentang siapa dirinya sebenarnya, apa kewajiban yang harus mereka tunaikan sebagai seorang muslim, agar mereka merasa bahwa masa muda ini tidak sepantasnya untuk diisi dengan perkara yang bisa melalaikan mereka dari mengingat Allah <em>subhanahu wata’ala</em> sebagai penciptanya, agar mereka tidak terus-menerus bergelimang ke dalam kehidupan dunia yang fana dan lupa akan negeri akhirat yang kekal abadi.</p>
<p><span id="more-101"></span></p>
<p>Wahai para pemuda muslim, tidakkah kalian menginginkan kehidupan yang bahagia selamanya? Tidakkah kalian menginginkan jannah (surga) Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> yang luasnya seluas langit dan bumi?</p>
<p>Ketahuilah, <em>jannah Allah subhanahu wata’ala </em>itu diraih dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam beramal. Jannah itu disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa yang mereka tahu bahwa hidup di dunia ini hanyalah sementara, mereka merasa bahwa gemerlapnya kehidupan dunia ini akan menipu umat manusia dan menyeret mereka kepada kehidupan yang sengsara di negeri akhirat selamanya. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ  الْغُرُورِ</p>
<p><em>“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” </em>(<strong>Ali ‘Imran: 185</strong>)</p>
<p><strong>Untuk Apa Kita Hidup di Dunia?</strong></p>
<p>Wahai para pemuda, ketahuilah, sungguh Allah <em>subhanahu wata’ala</em> telah menciptakan kita bukan tanpa adanya tujuan. Bukan pula memberikan kita kesempatan untuk bersenang-senang saja, tetapi untuk meraih sebuah tujuan mulia. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا  لِيَعْبُدُونِ</strong></p>
<p><em>“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka  beribadah kepada-Ku.”</em> (<strong>Adz Dzariyat: 56</strong>)</p>
<p>Beribadah kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Itulah tugas utama yang harus dijalankan oleh setiap hamba Allah.</p>
<p>Dalam beribadah, kita dituntut untuk ikhlas dalam menjalankannya. Yaitu dengan beribadah semata-mata hanya mengharapkan ridha dan pahala dari Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Jangan beribadah karena terpaksa, atau karena  <em>gengsi</em> terhadap orang-orang di sekitar kita. Apalagi beribadah dalam rangka agar dikatakan bahwa kita adalah orang-orang yang alim, kita adalah orang-orang shalih atau bentuk pujian dan sanjungan yang lain.</p>
<p><strong>Umurmu Tidak Akan Lama Lagi</strong></p>
<p>Wahai para pemuda, jangan sekali-kali terlintas di benak kalian:  <em>beribadah nanti saja kalau sudah tua</em>, atau <em>mumpung masih muda,  gunakan untuk foya-foya</em>. Ketahuilah, itu semua merupakan rayuan setan yang  mengajak kita untuk menjadi teman mereka di <em>An Nar</em> (neraka).</p>
<p>Tahukah kalian, kapan kalian akan dipanggil oleh Allah<em> subhanahu  wata’ala</em>, berapa lama lagi kalian akan hidup di dunia ini? Jawabannya  adalah sebagaimana firman Allah <em>subhanahu wata’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;">وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا  تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ</p>
<p><em>“Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui apa yang akan dilakukannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”</em> (<strong>Luqman:  34</strong>)</p>
<p>Wahai para pemuda, bertaqwalah kalian kepada Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>. <strong>Mungkin hari ini kalian sedang berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang tertawa, berpesta, dan hura-hura menyambut tahun baru dengan berbagai bentuk maksiat kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, tetapi keesokan harinya kalian sudah berada di tengah-tengah orang-orang yang sedang menangis menyaksikan jasad-jasad kalian dimasukkan ke liang <em>lahad</em> (kubur) yang sempit dan menyesakkan.</strong></p>
<p>Betapa celaka dan ruginya kita, apabila kita belum sempat beramal shalih. Padahal, pada saat itu amalan diri kita sajalah yang akan menjadi pendamping kita ketika menghadap Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Nabi <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em> bersabda:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ, يَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ.</strong></p>
<p><em>“Yang mengiringi jenazah itu ada tiga: keluarganya, hartanya, dan amalannya. Dua dari tiga hal tersebut akan kembali dan tinggal satu saja (yang mengiringinya), keluarga dan hartanya akan kembali, dan tinggal amalannya (yang akan mengiringinya).” </em>(<strong>Muttafaqun ‘Alaihi</strong>)</p>
<p>Wahai para pemuda, takutlah kalian kepada adzab Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>. Sudah siapkah kalian dengan timbangan amal yang pasti akan kalian hadapi nanti. Sudah cukupkah amal yang kalian lakukan selama ini untuk menambah berat timbangan amal kebaikan.</p>
<p>Betapa sengsaranya kita, ketika ternyata bobot timbangan kebaikan kita lebih ringan daripada timbangan kejelekan. Ingatlah akan firman Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُمُّهُ هَاوِيَةٌ وَمَا أَدْرَاكَ مَا هِيَهْ نَارٌ حَامِيَةٌ</strong></p>
<p><em>“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” </em>(<strong>Al  Qari’ah: 6-11</strong>)</p>
<p><strong>Bersegeralah dalam Beramal</strong></p>
<p>Wahai para pemuda, bersegeralah untuk beramal kebajikan, dirikanlah shalat dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan sesuai tuntunan Rasulullah <em>shallallahu  ‘alaihi wasallam</em>. Karena shalat adalah yang pertama kali akan dihisab nanti  pada hari kiamat, sebagaimana sabdanya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ  يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمْ الصَّلاَةُ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya amalan yang pertama kali manusia dihisab dengannya di hari  kiamat adalah shalat.”</em> (<strong>HR. At Tirmidzi, An Nasa`i, Abu  Dawud</strong>, <strong>Ibnu Majah</strong> dan <strong>Ahmad. </strong>Lafazh  hadits riwayat Abu Dawud no.733)</p>
<p>Bagi laki-laki, hendaknya dengan berjama’ah di masjid. Banyaklah berdzikir  dan mengingat Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Bacalah Al Qur’an, karena  sesungguhnya ia akan memberikan syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat  nanti.</p>
<p>Banyaklah bertaubat kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Betapa banyak  dosa dan kemaksiatan yang telah kalian lakukan selama ini. Mudah-mudahan dengan  bertaubat, Allah <em>subhanahu wata’ala</em> akan mengampuni dosa-dosa kalian  dan memberi pahala yang dengannya kalian akan memperoleh kebahagiaan dunia dan  akhirat.</p>
<p>Wahai para pemuda, banyak-banyaklah beramal shalih, pasti Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> akan memberi kalian kehidupan yang bahagia, dunia dan akhirat.  Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.”</em> (<strong>An Nahl: 97</strong>)</p>
<p><strong>Engkau Habiskan untuk Apa Masa Mudamu?</strong></p>
<p>Pertanyaan inilah yang akan diajukan kepada setiap hamba Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> pada hari kiamat nanti. Sebagaimana yang diberitakan oleh  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> dalam salah satu haditsnya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ : عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.</strong></p>
<p><em>“Tidak akan bergeser kaki anak Adam (manusia) pada hari kiamat nanti di hadapan Rabbnya sampai ditanya tentang lima perkara: umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa dihabiskan, hartanya dari mana dia dapatkan dan dibelanjakan untuk apa harta tersebut, dan sudahkah beramal terhadap ilmu yang telah ia ketahui.” </em>(<strong>HR. At Tirmidzi</strong> no. 2340)</p>
<p>Sekarang cobalah mengoreksi diri kalian sendiri, sudahkah kalian mengisi masa muda kalian untuk hal-hal yang bermanfaat yang mendatangkan keridhaan Allah <em>subhanahu wata’ala</em>? Ataukah kalian isi masa muda kalian dengan  perbuatan maksiat yang mendatangkan kemurkaan-Nya?</p>
<p>Kalau kalian masih saja mengisi waktu muda kalian untuk bersenang-senang dan  lupa kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, maka jawaban apa yang bisa kalian  ucapkan di hadapan Allah <em>subhanahu wata’ala</em> Sang Penguasa Hari  Pembalasan? Tidakkah kalian takut akan ancaman Allah <em>subhanahu wata’ala</em> terhadap orang yang banyak berbuat dosa dan maksiat? Padahal Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> telah mengancam pelaku kejahatan dalam firman-Nya:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا  يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا</strong></p>
<p><em>“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”</em> (<strong>An Nisa’: 123</strong>)</p>
<p>Bukanlah masa tua yang akan ditanyakan oleh Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>. Oleh karena itu, pergunakanlah kesempatan di masa muda kalian ini  untuk kebaikan.</p>
<p>Ingat-ingatlah selalu bahwa setiap amal yang kalian lakukan akan  dipertanggungjawabkan kelak di hadapan Allah <em>subhanahu wata’ala</em>.</p>
<p><strong>Jauhi Perbuatan Maksiat</strong></p>
<p>Apa yang menyebabkan Adam dan Hawwa dikeluarkan dari <em>Al Jannah</em> (surga)? Tidak lain adalah kemaksiatan mereka berdua kepada Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>. Mereka melanggar larangan Allah <em>subhanahu wata’ala</em> karena mendekati sebuah pohon di <em>Al Jannah</em>, mereka terbujuk oleh rayuan  iblis yang mengajak mereka untuk bermaksiat kepada Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>.</p>
<p>Wahai para pemuda, senantiasa iblis, setan, dan bala tentaranya berupaya untuk mengajak umat manusia seluruhnya agar mereka bermaksiat kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, mereka mengajak umat manusia seluruhnya untuk  menjadi temannya di neraka. Sebagaimana yang Allah <em>subhanahu wata’ala</em> jelaskan dalam firman-Nya (yang artinya):</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ  فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ  السَّعِيرِ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.”</em> (<strong>Fathir:  6</strong>)</p>
<p>Setiap amalan kejelekan dan maksiat yang engkau lakukan, walaupun kecil pasti  akan dicatat dan diperhitungkan di sisi Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Pasti  engkau akan melihat akibat buruk dari apa yang telah engkau lakukan itu. Allah  <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman (yang artinya):</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا  يَرَهُ</strong></p>
<p><em>“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apapun, niscaya dia  akan melihat (balasan)nya.”</em> (<strong>Az Zalzalah: 8</strong>)</p>
<p>Setan juga menghendaki dengan kemaksiatan ini, umat manusia menjadi terpecah belah dan saling bermusuhan. Jangan dikira bahwa ketika engkau bersama teman-temanmu melakukan kemaksiatan kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em>, itu merupakan wujud solidaritas dan kekompakan di antara kalian. Sekali-kali tidak, justru cepat atau lambat, teman yang engkau cintai menjadi musuh yang paling engkau benci. Allah <em>subhanahu wata’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ فَهَلْ أَنْتُمْ مُنْتَهُونَ</strong></p>
<p><em>“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu karena (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan perbuatan itu).”</em> (<strong>Al Maidah: 91</strong>)</p>
<p>Demikianlah setan menjadikan perbuatan maksiat yang dilakukan manusia sebagai sarana untuk memecah belah dan menimbulkan permusuhan di antara mereka.</p>
<p><strong>Ibadah yang Benar Dibangun di atas Ilmu</strong></p>
<p>Wahai para pemuda, setelah kalian mengetahui bahwa tugas utama kalian hidup  di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah <em>subhanahu wata’ala</em> semata, maka sekarang ketahuilah bahwa Allah <em>subhanahu wata’ala</em> hanya menerima amalan ibadah yang dikerjakan dengan benar. Untuk itulah wajib atas kalian untuk belajar dan menuntut ilmu agama, mengenal Allah <em>subhanahu  wata’ala</em>, mengenal Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, dan mengenal agama Islam ini, mengenal mana yang halal dan mana yang haram, mana yang haq (benar) dan mana yang bathil (salah), serta mana yang sunnah dan mana yang bid’ah.</p>
<p>Dengan ilmu agama, kalian akan terbimbing dalam beribadah kepada Allah  <em>subhanahu wata’ala</em>, sehingga ibadah yang kalian lakukan benar-benar  diterima di sisi Allah <em>subhanahu wata’ala</em>. Betapa banyak orang yang  beramal kebajikan tetapi ternyata amalannya tidak diterima di sisi Allah  <em>subhanahu wata’ala</em>, karena amalannya tidak dibangun di atas ilmu agama  yang benar.</p>
<p>Oleh karena itu, wahai para pemuda muslim, pada kesempatan ini, kami juga menasehatkan kepada kalian untuk banyak mempelajari ilmu agama, duduk di majelis-majelis ilmu, mendengarkan Al Qur’an dan hadits serta nasehat dan penjelasan para ulama. Jangan sibukkan diri kalian dengan hal-hal yang kurang bermanfaat bagi diri kalian, terlebih lagi hal-hal yang mendatangkan murka Allah <em>subhanahu wata’ala</em>.</p>
<p>Ketahuilah, menuntut ilmu agama merupakan kewajiban bagi setiap muslim, maka barangsiapa yang meninggalkannya dia akan mendapatkan dosa, dan setiap dosa pasti akan menyebabkan kecelakaan bagi pelakunya.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ  مُسْلِمٍ.</strong></p>
<p><em>“Menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban bagi setiap muslim.” </em>(<strong>HR. Ibnu Majah</strong> no.224)</p>
<p><strong>Akhir Kata</strong></p>
<p>Semoga nasehat yang sedikit ini bisa memberikan manfaat yang banyak kepada kita semua. Sesungguhnya nasehat itu merupakan perkara yang sangat penting dalam agama ini, bahkan saling memberikan nasehat merupakan salah satu sifat orang-orang yang dijauhkan dari kerugian, sebagaimana yang Allah <em>subhanahu  wata’ala</em> firmankan dalam surat Al ‘Ashr:</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ</strong></p>
<p><em>“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati dalam kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”</em> (<strong>Al ‘Ashr: 1-3</strong>)</p>
<p><em>Wallahu ta‘ala a’lam bishshowab.</em></p>
<p><strong>Sumber: Buletin Al-Ilmu, Penerbit Yayasan As-Salafy  Jember</strong></p>
<p><em> </em></p>
<h3><strong>Nasehat Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts  Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’</strong></h3>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana seorang muslim menempuh jalan keselamatan? Apa yang harus dilakukannya dalam menempuh kehidupan yang penuh dengan hal-hal yang bersifat materi ini, yang manusia sangat berlebihan dalam bergelimang padanya sehingga menyebabkan kerasnya hati-hati mereka, Wal ‘Iyadzubillah?</p>
<p>Apa nasehat dan arahan anda kepada saya sebagai seorang pemuda berusia 20 tahun yang cenderung kepada dunia? Apa buku-buku yang anda nasehatkan kepada kami untuk dibaca?</p>
<h3><strong>Al-Lajnah Ad-Da’imah Lil Buhuts  Al-‘Ilmiyyah Wal Ifta’ menjawab:</strong></h3>
<p>Wajib atas engkau untuk bertaqwa kepada Allah <em>ta’ala</em>, mentaati-Nya,  dan mentaati Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, berpegang teguh  dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>, melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi engkau dan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjauhi berbagai fitnah, senantiasa berbuat baik dan menghindari segala bentuk kejelekan, memperbanyak membaca Al-Qur’an disertai dengan upaya memahami maknanya, menjaga dzikir-dzikir yang shahih dan <em>tsabit</em> dari  Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> disertai dengan sikap rendah diri dan menghadirkan hati (khusyu’), membaca kitab (buku-buku) yang banyak terdapat di dalamnya hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat seperti kitab Al-Fawa’id dan kitab Ad-Da’u Wad Dawa’ yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, berdo’alah kepada Allah dalam sujud engkau dengan do’a-do’a yang terdapat dalam As-Sunnah disertai dengan rendah diri dan khusyu’, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah dan melapangkan hati engkau untuk berada di atas kebaikan, dan menjaga engkau dari segala fitnah yang nampak maupun tersembunyi.</p>
<p>Dan di antara kitab-kitab yang bermanfaat adalah Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairil ‘Ibad, Ighatsatul Lahfan yang keduanya karangan Ibnul Qayyim rahimahullah, dan juga kitab Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid, disertai dengan perhatian kepada kitab Ash-Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan tafsri Ibni Katsir.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>وصلى الله على نبينا محمد وصحبه  وسلم.</strong></p>
<p>[<strong>Fatawa Islamiyyah IV/498</strong>]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=101&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/nasehat-untuk-remaja-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bagaimana Hukum Shalat Dipimpin Ahli Bid&#8217;ah ?</title>
		<link>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/bagaimana-hhukum-shalat-dipimpin-ahli-bidah/</link>
		<comments>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/bagaimana-hhukum-shalat-dipimpin-ahli-bidah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jan 2010 07:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>nizaar</dc:creator>
				<category><![CDATA[Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://nizaar.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc Sumber: salafy.or.id بسم الله الرحمن الرحيم Shalat di Belakang Imam Ahli Bid&#8217;ah Al-Imam al Bukhari membuat sebuah bab berjudul: &#8220;Keimaman Seorang yang Terlibat Fitnah dan Seorang Ahli Bid&#8217;ah&#8221; Lalu beliau menyebutkan riwayat, عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ خِيَارٍ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِي اللَّهم عَنْهم وَهُوَ مَحْصُورٌ [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=98&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>Penulis: Al Ustadz Qomar ZA, Lc</div>
<div>Sumber: salafy.or.id</div>
<p>بسم الله الرحمن الرحيم</p>
<p><strong>Shalat di Belakang Imam Ahli Bid&#8217;ah</strong></p>
<p>Al-Imam al Bukhari membuat sebuah bab berjudul:<br />
&#8220;Keimaman Seorang yang Terlibat Fitnah  dan Seorang Ahli Bid&#8217;ah&#8221;<br />
Lalu beliau menyebutkan riwayat,</p>
<p style="text-align:right;">
عَنْ عُبَيْدِاللَّهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ خِيَارٍ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِي اللَّهم عَنْهم وَهُوَ مَحْصُورٌ فَقَالَ إِنَّكَ إِمَامُ عَامَّةٍ وَنَزَلَ بِكَ مَا نَرَى وَيُصَلِّي لَنَا إِمَامُ فِتْنَةٍ وَنَتَحَرَّجُ فَقَالَ الصَّلَاةُ أَحْسَنُ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ فَإِذَا أَحْسَنَ النَّاسُ فَأَحْسِنْ مَعَهُمْ وَإِذَا أَسَاءُوا فَاجْتَنِبْ إِسَاءَتَهُمْ</p>
<p><span id="more-98"></span></p>
<p>Dari &#8216;Ubaidullah bin &#8216;Adi bahwa beliau masuk menemui &#8216;Utsman bin &#8216;Affan saat beliau dikepung maka ia mengatakan: Sesungguhnya engkau adalah imam jama&#8217;ah, dan telah menimpamu apa yang kami lihat dan (sekarang yang) mengimami kami adalah imam fitnah , kami merasa takut berdosa. Maka &#8216;Utsaman berkata: Shalat adalah sebaik-baik apa yang dilakukan oleh manusia, maka jika mereka berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka dan jika mereka berbuat jelek maka jauhilah kejelekan mereka. [Shahih, HR Al Bukhari. lihat fathul bari :2/188 no: 695]</p>
<p>Ibnu Abi Zamaniin meriwayatkan dari Syabib ia mengatakan: Bahwa Najdah Al Haruri (orang khowarij) bersama teman-temannya datang (ke Makkah) maka ia melakukan perjanjian damai dengan Ibnu Zubair (yang menguasai Makkah saat itu, pent) lalu ia (Najdah) mengimami orang-orang selama sehari semalam dan Ibnu Az-Zubair sehari semalam, maka Ibnu Umar shalat di belakang mereka berdua, Sehingga seseorang mengkritik Ibnu Umar lantas beliau menjawab: Kalau mereka menyeru, &#8216;Mari kepada amal yang baik&#8217;, maka kita menyambutnya, dan jika mereka menyeru, &#8216;Mari kita bunuh jiwa&#8217;, maka kami mengatakan: Tidak!!. Dan beliau mengeraskan suaranya ['Usulussunnah karya Ibnu Abi Zamanin :3/1003 dinukil dari Mauqif ahlissunah, dan Al-Baihaqi meriwayatkan yang semakna: 3/122 dalam As-Sunanul kubra]</p>
<p>Ibnu Hazm mengatakan: Kami tidak mengetahui seorangpun dari sahabat berhalangan untuk shalat dibelakan Al-Mukhtar, Ubaidullah bin Ziyad dan Al-Hajjaj dan tiada orang fasiq yang lebih fasiq dari mereka. Allah telah berfirman:<br />
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ<br />
&#8220;Dan tolong menolonglah kalian pada kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong pada perbuatan dosa dan permusuhan&#8221;<br />
[Al Maidah:2] [Al Muhalla:4/302 dinukil dari dari Mauqif Ahlissunnah:1/351-352]</p>
<p>Ibnu Taimiyyah mengatakan: Adalah Abdullah Ibnu &#8216;Umar dan selain beliau dari kalangan sahabat, shalat di belakang Najdah Al Haruri (seorang berpemahaman bid’ah khawarij) [Minhajussnnah:5/247 Mauqif:1/352]</p>
<p>&#8216;Umair bin Hani mengatakan: Aku melihat Ibnu &#8216;Umar, Ibnu Zubair, Najdah, dan Al Hajjaj, maka Ibnu Umar mengatakan: Mereka (penduduk Makkah yang berperang) berjatuhan dalam neraka sebagaimana lalat jatuh ke dalam kuah. Tapi jika beliau mendengar seorang muadzin, beliau cepat-cepat menuju kepadanya -yakni muadzin mereka- lalu shalat bersama mereka [Al Mushonnaf karya Abdurrazzaq:2/387 As Sunanul Kubra, Al Baihaqi:3/122]</p>
<p>Abdul Karim Al Bakka&#8217;: Saya mendapati sepuluh dari sahabat Nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam semuanya shalat di belakang imam yang jahat [Sunan Al Kubra:3/122 dan Al Bukhari dalam tarikhnya, lihat Fathul Bari karya Ibnu rajab:4/183]</p>
<p>Nafi&#8217; mengatakan: Bahwa Ibnu &#8216;Umar menyendiri ke Mina saat pertempuran antara Ibnu Zubair dengan Hajjaj di Mina, lalu ia shalat di belakang Hajjaj. [Sunan Al Kubra:3/121]</p>
<p>Ibnu &#8216;Umar shalat di belakang Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi demikian pula Anas bin Malik shalat di belakangnya [Al Bukhari, lihat Syarah At Thahawiyah:374]</p>
<p>Demikian riwayat dari sebagian sahabat Nabi shallallahu&#8217;alaihi wa sallam yang membuktikan bahwa mereka shalat di belakang ahli bid&#8217;ah atau orang fasiq yang sekelas Hajjaj bin Yusuf selama mereka belum kafir.</p>
<p>Riwayat dari Tabi&#8217;in<br />
Ja&#8217;far bin Barqon mengatakan: Saya bertanya kepada Maimun bin Mihran tentang shalat di belakang seseorang yang disebut khawarij, ia menjawab: &#8216;Sesungguhnya engkau shalat bukan karena orang itu tapi karena Allah, dulu kami shalat di belakang Al Hajjaj padahal dia haruri azraqi (orang khawarij)&#8217;. Lalu aku memandangnya. Maka beliaupun berkata: &#8216;Dia adalah yang kamu selisihi pendapatnya ia menganggapmu kafir dan menghalalkan darahmu, dan Hajjaj dulu semacam itu&#8217; [Fathul Bari, Ibnu rajab:4/183]</p>
<p>Al Hasan Al Basri ditanya tentang shalat di belakang ahli bid&#8217;ah maka beliau menjawab: Shalatlah, dan bid&#8217;ahnya ditangung imam itu sendiri [HR. Al Bukhari secara mu'alaq dan Sa'id bin Manshur dinukil dalam Fathul Bari:4/182 karya Ibnu Rajab dan Fathul Bari, Ibnu Hajar :2/188]<br />
Al A&#8217;masy mengatakan: Adalah murid-murid besar Ibnu Mas&#8217;ud shalat jum&#8217;at bersama Al Mukhtar dan mereka mengharap pahala dari perbuatan itu. [Usulussunah karya Ibnu Abi Zamanin:3/1004 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah]</p>
<p>Seseorang berkata kepada Al Hasan Al Bashri: Datang seseorang dari Khawarij mengimami kami, apakah kami shalat di belakangnya? Beliau menjawab: Ya, telah ada yang lebih jelek darinya mengimami orang-orang. [Usulussunah karya Ibnu Abi Zamanin:3/1005]<br />
Qotadah mengatakan: Saya bertanya kepada Said Ibnu Al Musayyib: Apakah kita boleh shalat di belakang Al Hajjaj? Ia menjawab: Kami sungguh akan shalat di belakang orang yang lebih jelek darinya.<br />
Inilah beberapa riwayat dari tabi&#8217;in yang sejalan dengan apa yang dilakukan para sahabat.<br />
Selanjutnya dalam masalah ini kita perlu meninjau kepada dua keadaan:<br />
Pertama: ketika tidak mungkin berjama&#8217;ah kecuali di belakang mereka, seperti pada shalat jum&#8217;at, khususnya jaman dulu yang sangat terbatas pelaksanaannya, atau shalat ied atau bahkan shalat lima waktu.<br />
Kedua: ketika mungkin melaksanakan jama&#8217;ah di belakang selain mereka dari kalangan ahlussunnah dan tidak mengakibatkan makmum meninggalkan jama’ah.<br />
Keadaan pertama, kondisi seperti itu justru harus shalat di belakang mereka, karena jika tidak berarti akan menimbulkan hilangnya shalat berjama&#8217;ah. Sebagaimana kita lihat pada sebagian riwayat-riwayat di atas dari para sahabat dan tabi&#8217;in yang menunjukkan demikian. Bahkan yang sengaja meninggalkannya justru dianggap oleh para ulama sebagai ahli bid&#8217;ah.</p>
<p>Ibnu Taimiyyah mengatakan:<br />
(…Seandainya makmum mengetahui bahwa imamnya seorang ahli bid&#8217;ah dan mengajak kepada bid&#8217;ahnya atau seorang fasiq yang menampakkan kefasikannya sedang dia adalah imam rawatib yang tidak mungkin shalat kecuali di belakangnya seperti imam shalat jum&#8217;at dan dua hari raya dan imam di shalat haji di Arafah dan semacamnya maka makmum hendaknya shalat di belakangnya, (demikian) menurut mayoritas ulama&#8217; salaf dan khalaf (belakangan) dan itu adalah madzhab Asy Syafi&#8217;i, Ahmad dan yang lainya …Dan barangsiapa meninggalkan shalat jum&#8217;at dan jama&#8217;ah di belakang imam yang fajir/jahat maka dia adalah ahli bid&#8217;ah menurut imam Ahmad dan yang lainya dari kalangan imam ahlussunnah… [Al Fatawa:23/352-354]<br />
juga beliau mengatakan: (…Adapun shalat di belakang imam ahli bid&#8217;ah maka masalah ini ada perselisihan ulama di dalamnya dan ada perinciannya.</p>
<p>Jika tidak ia dapatkan imam selainnya seperti shalat jum&#8217;at yang tidak didirikan kecuali di satu tempat, dua hari raya dan shalat-shalat saat pelaksanaan haji di belakang imam musim haji maka yang semacam ini tetap dilakukan di belakang orang yang baik dan orang yang fajir/jahat dengan kesepakatan Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah. Dan yang meninggalkan shalat semacam ini di belakang para imam hanyalah ahli bid&#8217;ah seperti orang-orang Rafidhah/Syi&#8217;ah dan yang sejenisnya…[Al Fatawa:23/355]<br />
Katanya juga : (…Oleh karenanya orang-orang yang meninggalkan jum&#8217;at dan jama&#8217;ah di belakang para imam yang jahat secara mutlak terangap -menurut ulama salaf dan para imam- sebagai ahli bid&#8217;ah …..[Al Fatawa:23/343-344]</p>
<p>Tapi, Apakah Shalatnya Dianggap Sah dan Tidak Perlu Diulangi?</p>
<p>Ibnu Taimiyyah mengatakan:<br />
(…Yang benar adalah hendaknya ia melakukan shalat itu dan tidak mengulanginya, karena para sahabat, mereka shalat jum&#8217;at dan jama&#8217;ah di belakang para pimpinan yang fajir/jahat dan mereka tidak mengulanginya sebagaimana Ibnu Umar shalat di belakang Al Hajjaj, demikian pula Ibnu Mas&#8217;ud dan yang lainya shalat di belakang Al Walid bin &#8216;Uqbah padahal dia saat itu minum khamr…dan dalam shahih Al Bukhari bahwa Utsman saat beliau dikepung maka seseorang mengatakan: Sesungguhnya Engkau adalah Imam jama&#8217;ah dan telah menimpamu apa yang kami lihat dan (sekarang) mengimami kami imam (pimpinan) fitnah, kami merasa takut berdosa. Maka &#8216;Utsman berkata: ‘Sholat adalah sebaik-baik apa yang dilakukan oleh manusia maka jika manusia berbuat baik, berbuat baiklah bersama mereka dan jika meraka berbuat jelek maka jauhilah kejelekan mereka’.<br />
Dan yang semacam ini banyak.<br />
Dan orang yang fasiq dan mubtadi&#8217; shalatnya itu sendiri sah …[Al Fatawa:23/352-354]<br />
Adapun jika tidak mungkin shalat kecuali di belakangnya seperti jum&#8217;at maka shalatnya (tentu juga) tidak perlu diulangi, dan mengulanginya adalah termasuk perbuatan ahli bid&#8217;ah) [Al Fatawa:23/343-344]</p>
<p>Ibnu Qudamah juga mengatakan: Wajib sholat jum&#8217;at dan menuju kepadanya, sama saja apakah yang mendirikannya itu seorang ahlussunnah atau ahli bid&#8217;ah, atau seorang yang adil/sholih maupun fasiq, imam Ahmad telah menyebutkan demikian…dan saya tidak ketahui dalam masalah ini ada khilaf (beda pendapat) antara para ulama. Dalilnya dalam masalah ini adalah keumuman firman Allah ta&#8217;ala:<br />
إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ<br />
&#8220;Jika kalian diseru untuk shalat dari hari jum&#8217;at maka menujulah kepada dzikrullah dan tinggalkan jual beli&#8221; [Al Jumu'ah ayat:9]….Dan juga ijma&#8217; para shahabat, karena sesungguhnya Abdullah bin Umar dan yang lainnya dari para sahabat Rasulullah shallallahu&#8217;alaihi wa sallam mengikuti shalat jum&#8217;at di belakang Al Hajjaj dan yang sejenisnya, dan tidak terdengar dari para sahabat seorangpun dari mereka yang tidak mengikutinya. Abdulah bin Hudzail mengatakan: Kami saling mengingatkan tentang jum&#8217;at di masa Al Mukhtar, maka mereka bersepakat untuk mendatanginya, adapun perbuatan dustanya itu dia tanggung sendiri, dan karena jum&#8217;at itu adalah termasuk syi&#8217;ar agama yang tampak jelas serta yang mengurusinya adalah para penguasa atau yang diwakilkannya, maka tidak melakukan shalat jum&#8217;at di belakang orang yang semacam ini sifatnya akan berakibat lenyapnya shalat jum&#8217;at [Al-Mughni:3/169-170]</p>
<p>Ibnu Abil &#8216;Izz Al Hanafi mengatakan: Barangsiapa yang meninggakan shalat jum&#8217;at dan jama&#8217;ah di belakang Imam yang fajir/jahat maka dia mubtadi&#8217; (ahli bid&#8217;ah) menurut mayoritas para ulama. Yang benar ia tetap shalat dan tidak mengulanginya [Syarah Ath Thahawiyah:374]</p>
<p>Adapun keadaan kedua, yaitu saat mungkinnya shalat di belakang selain mereka yaitu di belakang imam yang adil/shalih dari ahlussunnah maka para imam bersepakat tetang kemakruhan shalat di belakang mubtadi&#8217;/ahli bid&#8217;ah. [Mauqif Ahlissunnah 1/360]</p>
<p>Pendapat Empat Madzhab<br />
Madzhab Hanafi:<br />
Dalam kitab Badai&#8217;ushona-i&#8217; disebutkan: Keimamam ahli bid&#8217;ah makruh hal itu telah disebutkan oleh Abu Yusuf, dalam &#8216;al Amali&#8217; beliau katakan: Saya tidak suka kalau imam itu pelaku bid&#8217;ah karena manusia tidak suka shalat di belakangnya.<br />
Tapi apakah boleh shalat di belakangnya? Sebagian guru kami mengatakan tidak boleh. Dalam kitab Al Muntaqa disebutkan sebuah riwayat dari Abu Hanifah bahwa beliau bependapat tidak boleh shalat dibelakan ahli bid&#8217;ah.<br />
Yang benar bahwa jika bid&#8217;ahnya membuatnya kafir maka tidak boleh. Kalau tidak membuatnya kafir maka boleh namun tetap makruh. [Bada'iushana'i', Al Kasani:1/387]</p>
<p>Madzhab Maliki<br />
Dalam salah satu riwayat dari Imam Malik disebutkan: …Imam Malik mengatakan: Kalau dia shalat maka tidak perlu mengulangi.<br />
[Al Mi'yarul Mu'rib:2/338 dinukil dari Mauqif ahlissunnah:1/362]</p>
<p>Madzhab Asy Syafi&#8217;i:<br />
Imam Nawawi mengatakan: Orang-orang yang semadzhab dengan kami mengatakan shalat di belakang orang yang fasiq sah tidak haram akan tetapi makruh demikian pula dimakruhkan di belakang ahli bid&#8217;ah yang belum dikafirkan dengan bid&#8217;ahnya dan tetap sah …Dan nash ucapan Asy Syafi&#8217;i dalam &#8216;al mukhtashor&#8217; menunjukan kemakruhan shalat di belakang fasiq dan mubtadi&#8217; tapi kalau melakukannya tetap sah. [Al Majmu':4/150]<br />
Ibnu Qudamah mengatakan: Al Hasan Abu Ja&#8217;far dan Asy Syafi&#8217;i membolehkan shalat dibelakan ahli bid&#8217;ah…dan karena dia (ahli bid&#8217;ah) adalah seseorang yang shalatnya sah maka bermakmum di belakangnyapun sah seperti yang lainnya [Al Mughni:3/18 lihat pula Mughni Al Labib:1/242 ]</p>
<p>Madzhab Hanbali:<br />
Ibnu Qudamah mengatakan: Adapun shalat jum&#8217;at dan &#8216;ied maka boleh shalat di belakang mereka. Dulu imam Ahmad shalat di belakang mu&#8217;tazilah demikian pula para imam semasa beliau. [Al Mughni:3/22]<br />
Dari imam Ahmad ada sebuah riwayat yaitu bahwa shalat di belakang orang fasiq boleh [Al Mughni:3/20]</p>
<p>Sandainya Tetap Sholat di Belakangnya, Apakah Shalatnya Sah atau Tidak?<br />
Dalam hal ini ada dua pendapat, Ibnu Taimiyyah menerangkan:<br />
(… Adapun jika mungkin melakukan jum&#8217;at atau jama&#8217;ah di belakang imam yang baik maka itu lebih baik dari pada melakukannya di belakang orang yang fajir/jahat. Saat itu jika ia (tetap) shalat di belakang orang fajir/jahat tanpa ada udzur, maka masalah ini adalah lahan berijtihadnya para ulama.<br />
Diantara mereka ada yang mengatakan: Ia harus mengulangi karena ia telah melakukan sesuatu yang tidak disyari&#8217;atkan, dimana ia tidak melakukan pengingkaran yang wajib ia lakukan, yaitu ketika ia shalat di belakangnya. Maka shalatnya di belakangnya itu terlarang sehingga ia mesti mengulanginya.<br />
Diantara mereka ada yang mengatakan: Tidak perlu mengulanginya karena shalatnya itu sendiri sah …) [Al Fatawa:23/343-344]<br />
(…Dan seandainya ia shalat di belakang orang yang diketahui bahwa ia fasiq atau ahli bid&#8217;ah/mubtadi&#8217; maka dalam hal sahnya shalat, ada dua pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad dan Malik sedang madzhab Asy Syaafi&#8217;i dan Abu Hanifah sah [Al Fatawa:23/351]<br />
(…Adapun jika memungkinkannya di belakang selain mubtadi&#8217; ini, maka itu lebih baik dan lebih utama tanpa ada keraguan akan tetapi jika ia shalat di belakangnya maka dalam (hal sahnya) shalat ada pertentangan diantara ulama, madzhab Syafi&#8217;i dan Abu Hanifah sah shalatnya adapun madzhab Malik dan Ahmad maka dalam madzhab mereka ada perselisihan dan perincian) [Al Fatawa:23/355]</p>
<p>Jadi, kesimpulannya sebagai berikut:<br />
Pendapat pertama, shalatnya sah dan tidak perlu mengulangi dan ini adalah pendapat Asy Syafi&#8217;i dan Abu Hanifah.<br />
Abdullah bin Ahmad An Nasafi (dari ulama madzhab Hanafi) mengatakan: Dimakruhkan keimaman seorang budak hamba sahaya, Arab badui, fasiq dan ahli bid’ah [Kanzud Daqa'iq:1/369 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/360]<br />
Nasr Al Maqdisi menukilkan dari Al Imam As Syafi&#8217;i ucapannya: Saya tidak suka keimaman seorang fasiq dan yang menampakkan bid&#8217;ah [Mukhtashor kitab al hujjah 'la tarikil mahajjah:570. Dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/360]</p>
<p>Dan ini ternyata juga pendapat Imam Malik dalam salah satu riwayat dari beliau (…Imam Malik mengatakan: Kalau dia shalat maka tidak perlu mengulang.. dan Suhnun mengatakan: Kalau mengulangi itu baik dan kalau tidak mangulangi maka tidak mengapa, dan beliau menganggap lemah pendapat yang mengatakan mengulangi, beliau berpendapat untuk tidak mengulangi baik masih dalam waktu shalat atau di luar waktu, dan seluruh murid-murid Malik yaitu Ayshab, Mughirah …dan lainnya mengatakan: Tidak diulangi (sholatnya) di belakang mereka.[Al Mi'yarul Mu'rib:2/338 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah, karya Asy-Syakih Ibrahim bin Amir Ar-Ruhaili:1/362]<br />
Ini juga salah satu pendapat Imam Ahmad, beliau mengatakan: Dilakukan shalat di belakang orang yang baik dan yang fajir/jahat, tidak seorangpun dikafirkan dengan sebab dosa (selain dosa kekafiran besar-pent). [Ar Riwayataini wal wajhaini:1/172 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/362. Riwayat Harb.]</p>
<p>Dalam riwayat yang lain beliau mengatakan bahwa yang mengulangi adalah termasuk ahli bid’ah (mubtadi&#8217;). [lihat, Al Mughni:3/20-22]<br />
Dengan demikian pendapat ini telah disepakati oleh empat madzhab.</p>
<p>Pendapat yang kedua, shalatnya tidak sah dan harus mengulangi. Ini adalah pendapat Maliki dan Hambali dalam salah satu riwayat dari Imam Malik dan Imam Ahmad.</p>
<p>Imam Malik ditanya tentang seseorang yang shalat di belakang orang yang bermadzhab Qodari (ingkar taqdir): Maka beliau berpendapat untuk tidak shalat di belakangnya dan beliau mengatakan dalam hal shalat jum&#8217;at saya berpendapat kalau kamu takut dan khawatir terhadapnya maka shalatlah bersamanya, lalu kamu ulangi dengan shalat dhuhur [Al Mudawwanah:345 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/361]</p>
<p>Imam Ahmad mengatakan: Tidak perlu shalat di belakang (ahli bid’ah) Murji&#8217;ah, (ahli bid’ah) Rafidahah, dan fasiq kecuali jika takut dari mereka maka shalat di belakang mereka lalu mengulangi [Riwayat Abul Harits, Ar Riwayataini wal wajhaini:1/172 dinukil dari Mauqif Ahlissunnah:1/362]</p>
<p>Imam Malik mengatakan tidak sah di belakang orang yang fasiq tanpa di dasari takwil, seperti peminum khamr dan pezina. Sementara jumhur ulama berpendapat sahnya. Demikian kata An Nawawi [Al Majmu':4/150]</p>
<p>Nash-nash imam Ahmad yang lain menunjukan tidak boleh [lihat, Al Mughni:3/20-22]… dalam sebuah ucapan beliau menyuruh untuk mengulangi shalatnya . [lihat Al Mughni:3/20-22].</p>
<p>Demikian dua pendapat yang ada, namun pendapat yang pertama lebih kuat dan itu merupakan pendapat mayoritas para ulama, Imam An-Nawawi mengatakan: Imam Malik mengatakan tidak sah di belakang fasiq tanpa takwil seperti peminum, khamr dan pezina. Sementara jumhur ulama berpendapat sahnya. [Al Majmu':4/150]</p>
<p>Ibnu Taimiyyah mengatakan: …(Saat) memungkinkan shalat di belakang orang yang ia ketahui bahwa ia mubtadi&#8217; atau fasiq tapi memungkinkan pula shalat di belakang selainnya maka mayoritas para ulama&#8217; menganggap sahnya shalat makmum, [Majmu' Fatawa:3/280]<br />
Adapun di antara alasannya adalah apa yang telah tersebut dari sela-sela nukilan ucapan para ulama&#8217; diatas.</p>
<p>Dari sini kita mengetahui salahnya sebagian kelompok atau individu yang meninggalkan shalat berjama&#8217;ah di masjid -dimana itu hukumnya wajib menurut pendapat yang kuat- dengan alasan imamnya adalah ahli bid&#8217;ah. Yang lebih unik adalah ketika ternyata dia sendiri ahli bid&#8217;ah, seperti terjadi pada sebagian lembaga dan jama&#8217;ah-jama&#8217;ah dakwah Islam di Indonesia ini.</p>
<p>Hanya kepada Allah  aku mengadu.<br />
Wallahua&#8217;lam bish showab<br />
Disusun oleh Qomar Su&#8217;aidi ZA, 23 september 2004 M</p>
<p>Footnote :<br />
1. Maksudnya masuk dalam fitnah sehingga memberontak penguasa. [Fathul Bari]<br />
2. Ibnu hajar mengatakan: Ahli bid&#8217;ah adalah yang meyakini sesuatu yang bertentangan dengan ahlussunnah wal jama&#8217;ah. Fahul bari: 2/188<br />
3. Ibnu Hajar mengatakan: Yakni pimpinan fitnah [Fathul Bari:2/189]</p>
<p>(Dikirim oleh al ustadz Qomar ZA, Lc melalui email)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/nizaar.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/nizaar.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=nizaar.wordpress.com&amp;blog=6032226&amp;post=98&amp;subd=nizaar&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://nizaar.wordpress.com/2010/01/03/bagaimana-hhukum-shalat-dipimpin-ahli-bidah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/80c520374389591d58c17d1114082fa2?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">nizaar</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
