Oleh: nizaar | 3 Januari 2010

Wahai Ahlus Sunnah, Jagalah Ukhuwwah di Antara Kalian!

Wahai Ahlus Sunnah, Jagalah Ukhuwwah di Antara Kalian!

(Nasehat Al-Ustadz Luqman Ba’abduh yang disampaikan dalam acara LKIBA Ma’had As-Salafy Jember pada hari Ahad tanggal 13 Desember 2009)

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم.

Di antara nikmat Allah subhanahu wata’ala yang besar nilainya namun sering dilupakan oleh hamba-hamba-Nya, -dan kita termasuk di dalamnya, yang lalai dan lupa tentang mahalnya nikmat tersebut- adalah nikmat Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah. Al-Ukhuwwah atau persaudaraan di atas prinsip Islam, di atas prinsip Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada majelis ini, saya ingin berbicara dan mengingatkan diri saya sendiri yang pertama dan kemudian semua yang mendengarkan nasehat ini tentang besar dan pentingnya nikmat tersebut. Beberapa hal dan peristiwa yang terjadi pada waktu-waktu terakhir ini mendorong saya untuk berbicara, menyebutkan, dan mengingatkan nikmat yang besar ini.

Di antara peristiwa yang muncul pada hari-hari ini -yang kemudian tadi saya katakan mengingatkan saya pertama kemudian Insya Allah semua yang mendengarkan nasehat ini untuk mengenal lebih jauh dan mengingat lebih banyak nikmat Al-Ukhuwwah Al-Islamiyyah ini- adalah munculnya berbagai kegiatan, berbagai karya yang ditulis dan disebarkan oleh ahlul bathil dengan beragam bentuknya. Di mana mereka -siang dan malam- secara terus-meners rajin untuk menebarkan kemungkaran dan kebathilan di tengah umat ini. Mereka bersatu-padu, berupaya untuk memadamkan cahaya tauhid, memadamkan cahaya Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebenarnya pembahasan ini pernah kita singgung beberapa bulan yang lalu, namun karena memang kita ini mudah lupa, maka harus ada upaya untuk selalu diingatkan. Karena memang di sekitar kita dari berbagai syubuhat dan syahwat cenderung menyeret kita untuk lalai terhadap apa yang telah kita ketahui. Maka kita harus terus gencar untuk mengingatkan dan saling mengingatkan. Tidak cukup waktu untuk menyebutkan satu persatu berbagai kebathilan, kemungkaran, syubuhat yang terus ditebarkan melalui berbagai media yang membuat dada kita ini sesak dan kita merasa tenaga kita terkuras. Atau untuk meringankan beban dan membangkitkan semangat kembali untuk terus istiqamah di atas Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, istiqamah dan sabar dalam membela tauhid dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sering kita katakan bahwa duduknya kita di majelis seperti ini bukan karena adanya sebuah kepentingan duniawi atau kepentingan bersama terkait dengan urusan dunia, tidak ada kartu anggota organisasi yang menyatukan kita, tetapi tidak lain yang menyatukan kita adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yang menyatukan kita adalah kepentingan kita terhadap tauhid dan kepentingan kita untuk tetap beribadah, beramal, dan beraqidah di atas Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nikmat Al-Ukhuwwah ini Allah sebutkan di dalam ayat-Nya, -di mana pada ayat ini Allah memerintahkan kita untuk terus mengingatnya dan tentu tidak sebatas mengingat dengan disebutkan melalui lisan kita, tetapi mengandung perintah untuk kita pandai-pandai menjaga dan memeliharanya-. Allah subhanahu wata’ala menyatakan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آَيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah[1], dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah tersebut sebagai orang-orang yang bersaudara, dan kamu telah berada di tepi jurang an-nar, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Dengan ayat ini, kita mungkin teringat bahwa dahulu salah seorang di antara kita ada yang beraqidah dengan aqidah tasawwuf atau terikat dengan berbagai bentuk tarekat Shufi, atau ada di antara kita dahulu yang berpemikiran Khawarij, mengkafirkan saudaranya muslim, atau di antara kita dahulu penuh dengan khurafat, menggantungkan jimat-jimat, datang ke dukun-dukun, mungkin di antara kita dahulu ada yang beraqidah dengan aqidah Mu’tazilah, di antara kita ada yang sibuk dengan urusan dunianya sehingga penuh dengan kemaksiatan. Semua itu pada hakekatnya menunjukkan bahwa kita bermusuhan, tidak bermusuhan secara fisik sebagaimana yang terjadi pada kaum Aus dan Khazraj.

Allah menyatukan hati-hati kalian, kemudian dengan nikmat dan karunia dari Allah, kalian menjadi saudara. Saudara karena sama-sama ingin bertauhid dengan benar, ingin menyelamatkan diri dari kesyirikan, ingin berpegang teguh kepada Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam seluruh urusan agamanya. Dahulu kalian sebenarnya sudah berada di tepi jurang neraka, kemudian Allah selamatkan kalian. Inilah yang Allah subhanahu wata’ala ingatkan kepada kita semuanya wahai Ahlussunnah. Perintah Allah kepada kita untuk mengingat nikmat Al-Ukhuwwah ini mengandung perintah untuk kita menjaganya karena mengingat nikmat itu merupakan bagian atau salah satu unsur dari bentuk syukur nikmat, dan menjaga nikmat itu adalah termasuk bentuk syukur.

Kita masih ingat nasehat Al-Imam Al-Hasan bin Abil Hasan Al-Bashri rahimahullah -salah seorang ulama kibar dari kalangan tabi’in-, beliau mengatakan :

يَا أَهْلَ السُّنةِ تَرَفَّقُوْا رَحِمَكُمُ الله فَإِنَّكُم أَقَلُّ النَّاسِ.

“Wahai sekalian Ahlussunnah, bersikap baik dan lembutlah di antara kalian, mudah-mudahan Allah memberikan rahmat-Nya kepada kalian, karena kalian adalah golongan umat manusia yang paling sedikit.”

(Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Lalika`i dalam Syarhu Ushuli I’tiqadi Ahlis Sunnah).

Beliau mengucapkan ucapan ini dahulu pada masa tabi’in, -masa yang masih dekat dengan masa kenabian- sudah merasakan adanya Al-Ghurbah (keterasingan) dan sedikitnya Ahlussunnah, padahal dahulu Ahlus Sunnah mengalami puncak kejayaannya, aqidah Ahlussunnah tersebar di tengah umat, tetapi seorang imam yang mulia ini merasakan sesuatu yang tidak kita rasakan pada kondisi kita hidup sekarang ini, padahal kondisi kita hidup sekarang ini jauh lebih terpuruk, kondisi tauhid dan sunnah ini semakin asing di tengah umat. Ahlussunnah semakin asing dan sedikit dibanding kemungkaran dan kebatilan yang tersebar. Kira-kira apa yang dirasakan oleh Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri ketika melihat kondisi umat sekarang?

Al-Imam Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri rahimahullah -seorang imam besar dari kalangan Tabi’ut Tabi’in- mengatakan dalam wasiatnya kepada salah seorang muhaddits yang akan melakukan perjalanan jauh (rihlah) dalam rangka menuntut ilmu dan riwayat-riwayat hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا بلغك عن رجل بالمشرق صاحب سنة وآخر بالمغرب فابعث إليهما بالسلام وادع لهما ما أقل أهل السنة والجماعة.

“Jika kamu mendapat berita adanya seorang Ahlus Sunnah yang berada di belahan masyriq (timur) dan adanya seorang Ahlus Sunnah yang berada di maghrib (barat), maka sampaikanlah salam kepadanya dan do’akanlah kebaikan kepadanya karena betapa sedikitnya Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.”

Perkataan ini diucapkan oleh seorang Ahlul Hadits yang pada masa itu tersebar Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, masih banyak pada waktu itu ulama dan Ahlul Hadits, namun beliau masih saja mengatakan betapa sedikitnya Ahlus Sunnah.

Maka, ikhwani fiddin rahimani wa rahimakumullah, kita hidup di mana Ahlul Bathil di masa sekarang ini semakin banyak. Berbagai media mereka kuasai, mereka sudah memiliki berbagai perangkat dan sarana yang tidak bisa dimiliki oleh Ahlus Sunnah. Maka dari itu, nilai seorang saja dari saudara-saudara kita yang beraqidah di atas aqidah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berada di atas taufiq-Nya adalah begitu mahalnya. Maka dari itu, jagalah baik-baik nikmat yang besar ini.

Tentunya dalam menjaga nikmat yang besar ini, kita mesti mengetahui berbagai sikap dan tindakan serta amalan yang bisa merusaknya, yang bisa mengganggu, menghilangkan, dan memporak-porandakan nikmat Al-Ukhuwwah ini. Dengan kita mengetahui berbagai tindakan, sikap dan amalan yang bisa merusak Al-Ukhuwwah tersebut, kita bisa menjauhkan diri kita dari ketergelinciran kepada perbuatan yang tercela itu. Terlalu banyak ayat dan hadits yang menjelaskan tentangnya dan tidak cukup waktu untuk kita jelaskan semuanya dalam pertemuan singkat ini.

Di antara yang bisa saya sebutkan dalam kesempatan ini adalah ayat Allah subhanahu wata’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan kebaikan karena Allah, menjadi para saksi yang bersaksi dengan sikap yang adil, dan janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk bersikap tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ma’idah: 8)

Ayat ini mengandung perintah kepada kita kaum mu’minin agar kita tidak terjerumus kepada perbuatan zhalim. Di antara perbuatan kezhaliman tersebut adalah sikap tidak adil ketika kita menyikapi suatu permasalahan atau menyikapi saudara kita, maka Allah subhanahu wata’ala menyatakan:

كُونُوا قَوَّامِينَ

“jadilah kalian orang-orang yang selalu menegakkan kebaikan”,

شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ

para saksi yang bersaksi dengan sikap yang adil”,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا

“janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk bersikap tidak adil”.

Sering kita mendapati di antara amalan yang merusak Al-Ukhuwwah adalah sikap tidak adil di dalam menyikapi saudara kita. Sikap tidak adil dalam menyikapi saudara kita ini banyak bentuknya. Di antara yang bisa saya sebutkan adalah antara lain: kalaua kita sedang berkawan, antara teman atau saudara atau istri kita hubungannya baik dan mesra, pada saat hubungan itu masih baik, kepentingan masing-masing masih terpenuhi, maka di saat itu betapa indahnya Al-Ukhuwwah. Masing-masing bisa menjaga saudaranya, menjaga harga diri dan aib saudaranya. Nampak darinya dan tidak keluar dari lisannya tentang saudaranya kecuali yang baik dan gambaran yang indah. Namun ketika sebagian kepentingan duniawinya terhalang, mulai sakit hati atau pernah tersinggung, maka hilang semuanya atau sebagiannya atau sebagian besarnya. Sudah mulai upaya untuk menjatuhkan saudaranya, tetangganya, atau yang lainnya. Itu sudah mulai dilakukan.

Tentu ini merupakan kezhaliman yang dilarang di dalam syari’at Islam. Bersikap adillah ketika berteman, bersikap adillah ketika bertetangga, bersikap adillah ketika bermuamalah, berhubungan dalam bentuk apapun, termasuk dalam hubungan rumah tangga. Karena sikap adil itu -yang dengan izin Allah bisa menjauhkan diri kita dari sikap zhalim- adalah ciri, kriteria dan sifat yang mulia dari seorang mu`min. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berbagai haditsnya mengingatkan tentang beberapa sikap dan amalan yang dapat merusak Al-Ukhuwwah.

Dalam hadits riwayat Muslim dari shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا ولاتدابروا ولايبع بعضكم على بيع بعض وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا المسلم أخو المسلم لايظلمه ولايحقره ولايخذله التقوى هاهنا التقوى هاهنا التقوى هاهنا بحسب امرئ من الشر أن يحقرأخاه المسلم كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه.

“Janganlah kalian saling hasad, saling berbuat najasy, saling membenci, saling membelakangi, dan janganlah salah seorang di antara kalian menjual barang yang sudah terjadi transaksi jual beli oleh orang lain, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, seorang muslim itu saudara bagi musliam yang lain, tidak boleh menzhaliminya, merendahkannya, membiarkannya (tidak peduli padanya), taqwa itu tempatnya di hati, taqwa itu tempatnya di hati, taqwa itu tempatnya di hati, cukuplah seseorang itu dikatakan telah berbuat kejelekan manakala telah merendahkan saudaranya sesama muslim, setiap muslim atas muslim yang lain itu haram darahnya, harta, dan kehormatannya.

Hadits ini sangat mulia, sangat penting untuk selalu kita mengingatnya, terkhusus di antara sesama Ahlussunnah, karena memang Ukhuwwah Sunniyyah Manhajiyyah yang didirikan di atas aqidah itu mahal sekali. Di tengah-tengah umat berukhuwwah karena kepentingan dunia, kepentingan suku, organisasi, kepentingan madzhab, dan yang lainnya. Maka Ahlussunnah yang sangat sedikit dan Ghuraba’ (asing) ini, mendirikan ukhuwwahnya di atas Al-Kitab dan As-Sunnah.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَحَاسَدُوا

“jangan kalian saling mendengki (hasad).”

Hal ini diingatkan karena memang Allah itu lebih mengutamakan sebagian hamba-Nya terhadap hamba-Nya yang lain dalam nikmat dan karunia yang Allah berikan. Allah berikan kepada si fulan dari sisi fisik, kenikmatan dari sisi rezeki dan kelapangan, kelebihan ilmu dan kepandaian, dan berbagai bentuk kelebihan yang tidak diberikan kepada yang lainnya. Sehingga janganlah terjatuh ke dalam perbuatan hasad.

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ.

“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (Al Qashahsh: 68)

Allah subhanahu wata’ala menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan memilih di antara hamba-hamba-Nya siapa yang pantas untuk diberikan keutamaan dan kelebihan. Kehendak Allah subhanahu wata’ala bersifat mutlak dan tidak dibatasi oleh kehendak siapapun. Perkara hasad merupakan perkara yang merusak Al-Ukhuwwah.

Penyakit hasad adalah penyakit yang menyebabkan terjadinya kemaksiatan pertama yang dilakukan hamba-hamba Allah. Tidaklah Iblis menggoda Adam dan Hawwa kecuali disebabkan oleh hasad dan dengki. Begitu juga kemungkaran dan kebathilan yang ada di muka bumi ini, mayoritasnya disebabkan oleh hasad. Barangsiapa yang Allah berikan padanya nikmat, bersyukurlah kepada-Nya, tidak boleh menganggap remeh dan merendahkan yang lainnya. Begitu pula sebaliknya, barangsiapa yang belum Allah berikan nikmat-nikmat tersebut, maka jangan dengki kepada saudaranya karena hasad dan dengki itu bisa menghilangkan dan merusak nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam:

وَلَا تَنَاجَشُوا

“janganlah kalian saling najasy.”

Yaitu transaksi yang dikenal di masa kita ini sebagai lelang, dalam bentuk diutusnya beberapa orang (pesuruh) oleh seorang pedagang yang dengan sengaja menawar suatu barang dagangan si pedagang yang menyuruhnya tadi dengan harga yang lebih tinggi padahal dia sendiri tidak ada keinginan untuk membeli barang tersebut. Hal ini dilakukan untuk menipu pembeli yang lain agar menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi.

Dunia itu tidak bernilai, tetapi terkadang bisa merusak dan menghancurkan hal-hal yang menguatkan Al-Ukhuwwah.

Tidak kalah pentingnya juga peringatan kepada para ummahat (ibu-ibu), karena mereka juga tidak kecil peranannya dalam merusak Al-Ukhuwwah. Dan di antara perkara yang bisa merusak Al-Ukhuwwah yang sering terjadi di antara suami dan istri adalah ghibah, definisi ghibah adalah:

ذكرك أخاك بما يكره وهو فيه

“menyebutkan aib saudaranya yang saudaranya itu benci untuk disebutkan aibnya dalam keadaan aib itu benar ada.”

Jika ternyata aib itu tidak ada pada saudaranya, maka disebut buhtan. Seperti ketika seorang suami-istri datang dari ta’lim, setelah pulang dari ta’lim justru mengghibahi saudaranya, ketika pulang dari ta’lim justru menceritakan anak ikhwan lain yang ngompol atau yang lainnya. Tutuplah aib saudaramu sebagaimana dalam hadits:

مَنْ سَتَرَ مُؤْمِنًا سَتَرَهُ اللَّهُ في الدنيا والآخرة

“Barangsiapa yang menutup aib seorang mu’min, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.”

Dan yang lainnya dari bentuk amalan yang bisa merusak Al-Ukhuwwah. Sengaja masalah ini disebutkan agar kita tidak tersibukkan dengan perkara intern Ahlus Sunnah seperti ini. Sehingga kita tidak habis waktunya hanya untuk saling membicarakan di antara kta. Tidak terkuras tenaga kita, tenaga kita dibutuhkan untuk membela tauhid dan sunnah Rasulullah, jangan dihabiskan tenaga kita untuk berbicara seperti ini. Ini merupakan perkara yang besar sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala:

إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ.

“(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (An-Nur: 15)

Jangan sampai majelis-majelis kita dipenuhi dengan seperti ini, karena ini dapat merusak Al-Ukhuwwah. Semoga yang sedikit kita dengarkan pada majelis siang hari ini menambah iman kita, dapat melanggengkan nikmat yang mulia yaitu nikmat Al-Ukhuwwah, dan Allah jadikan ilmu yang bermanfaat sekaligus menghapuskan berbagai kesalahan dan dosa-dosa kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين.


[1] Yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: